Penjarakan Gay, Kemunduran Senegal dalam Atasi HIV

Ranny Utami/Reuters, CNN Indonesia | Kamis, 27/08/2015 16:22 WIB
Penjarakan Gay, Kemunduran Senegal dalam Atasi HIV Ilustrasi gay atau homoseksual. (Reuters/Edward Echwalu)
Dakar, CNN Indonesia -- Butuh waktu kurang dari satu menit bagi hakim panel di Senegal untuk memvonis enam bulan penjara terhadap tujuh pria atas kasus homoseksual pekan lalu, namun para aktivis menilai hal ini merupakan kemunduran Senegal dalam gerakan anti-HIV di Afrika.

Senegal, sebuah negara Muslim yang berdasar pada pilar demokrasi di Afrika Barat yang bergejolak, merupakan salah satu dari 30 negara bagian Afrika yang memiliki sistem hukum anti-homoseksual.

Negara berpopulasi 14 juta orang ini juga membanggakan dirinya akan semangat dan keberhasilan dalam gerakan anti-HIV.


Diberitakan Reuters, Rabu (26/8), para aktivis memperingatkan bahwa putusan yang dikeluarkan Jumat lalu tersebut, yang berdasar pada temuan polisi terhadap kondom dan cairan pelumas dalam sebuah rumah di mana ketujuh pria ini ditangkap, merupakan pukulan bagi mereka yang mempromosikan seks aman.

Sekarang, upaya pencegahan AIDS yang dilakukan pria gay ini dapat mengubah mereka menjadi target pemerintah, menurut para aktivis.

"Kami dicegah membawa kondom. Kami dicegah membawa cairan pelumas," ujar Djamil Bangoura, ketua Asosiasi Prudence, sebuah organisasi yang mendukung hak LGBT.

"Hal itu yang saya lihat dalam persidangan," lanjutnya.

Juru bicara kepolisian setempat belum bisa dimintai tanggapan perihal ini.

Pada 2013 lalu, Presiden AS Barack Obama mengunjungi Senegal dan menyerukan langkah untuk menyetarakan hak homoseksual dalam sistem hukum di Afrika.

Presiden Senegal Macky Sall menanggapi bahwa tidak ada kaum gay yang dianiaya di negaranya, namun negara ini mengaku belum siap untuk mendekriminalisasi homoseksual.

Sistem hukum di Senegal menetapkan hukuman hingga 5 tahun penjara dan denda sebesar US$2.587 bagi homoseksual, menurut laporan Asosiasi Interseks dan LGBT Internasional 2015.

Hukum anti-homoseksual ini tidak separah hukum di negara lain di kawasan Afrika Barat. Di beberapa daerah bagian Nigeria, gay mendapat hukuman mati.

Sementara itu, Gambia baru-baru ini meresmikan hukum yang 'memperburuk homoseksual'. Bagi mereka yang berhubungan seks dengan anak di bawah umur atau jika diketahui positif HIV, mereka akan dihukum penjara seumur hidup.

Namun, peneliti senior Human Rights Watch di bidang LGBT, Neela Ghoshal mengatakan bahwa Senegal adalah salah satu dari segelintir negara yang secara teratur menuntut individu di bawah undang-undang ini.

"Ada ketidaksinambungan antara apa yang dibutuhkan dalam hal kebijakan kesehatan publik dan upaya apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk menerima dekriminalisasi," ujarnya.

Seks adalah Tabu

Senegal mengeluarkan program AIDS nasional pada 1987, setahun setelah kasus pertama negeri ini tercatat.

Semenjak itu, Senegal menjadi negara paling sukses di Afrika yang mampu membendung penyebaran penyakit ini. Pada 2014, UNAIDS memperkirakan hanya sekitar 0,5 persen dari usia 15-49 tahun di Senegal mengidap HIV.

Namun, pencegahan HIV di kalangan LGBT seringkali menimbulkan kontroversi. Pada 2008, beberapa hari setelah Senegal menjadi tuan rumah Konferensi Internasional AIDS dan Infeksi Seks Menular, sejumlah aktivis anti-HIV ditangkap atas tuduhan homoseksual, menurut laporan HRW.

Di Senegal, umumnya pria gay adalah kalangan yang terkena dampak HIV paling tinggi dibandingkan dengan populasi umum.

Pada Juli lalu, Kementerian Kesehatan Senegal mengeluarkan laporan yang menyatakan bahwa angka HIV di kalangan pria gay pada 2014 menyusut dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun masih berkisar pada angka 17,8 persen.

Dan yang mengkhawatirkan, laporan tersebut juga menyoroti bahwa angka pria gay antara usia 18-19 tahun meningkat hingga mencapai 20 persen dari 5,2 persen pada 2007 silam.

Kepala Departemen Divisi Kesehatan HIV, Dr. Abdoulaye Wade mengatakan angka-angka ini mungkin masih bisa berubah, mengingat kalangan muda yang lebih banyak dibanding tahun sebelumnya.

Namun Julo, sekretaris AIDES Senegal, sebuah asosiasi yang berfokus terhadap hak LGBT dan AIDS menyatakan bahwa kalangan muda kurang mendapat informasi mengenai seks yang aman. "Seks sangat tabu di Senegal," ujarnya.

Sementara itu, seorang dokter dari kantor Divisi HIV yang mengaku bernama Diop, sependapat dengan pernyataan Julo. "Ketika orang-orang terkena penyakit ini, kami menyebutnya penyakit yang memalukan," ujarnya.

Bagi AIDES Senegal, dekriminalisasi bukan merupakan tujuan utama. Tujuan utama sebenarnya adalah menghapus diskriminasi di lingkungan seperti perumahan, pekerjaan dan kesehatan.

Beberapa orang yang bekerja dengan asosiasi pemerhati hak gay menduga diskriminasi terjadi akibat pengaruh agama. Para pemuka agama menyatakan bahwa homoseksual dilarang di dalam Al Quran.

"Saya harap, pada akhirnya nanti pemerintah mampu lebih maju dibanding pemuka agama terkait masalah ini karena sesungguhnya pemerintah lebih tahu," ujar Ghoshal. (den)