Dikutip dari Reuters, para pakar iklim memprediksi permukaan air di timur-tengah Samudera Pasifik cenderung lebih hangat 2 derajat dari rata-rata, berpotensi membuat fenomena El Nino tahun ini menjadi salah satu yang terkuat yang pernah terjadi.
Maxx Dilley, direktur Cabang Prediksi Iklim dan Adaptasi WMO memaparkan biasanya udara hangat di atas wilayah Pasifik timur menyebabkan peningkatan curah hujan di atas pantai barat Amerika Selata, dan kondisi kering di sepanjang kepulauan Australia/Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sesungguhnya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Akankah dua pola ini saling memperkuat? Apakah dua pola ini saling membatalkan satu sama lain? Apakah dua pola ini akan terjadi secara berurutan? Apakah pola ini hanya akan menjadi fenomena regional? Kami benar-benar tidak tahu," kata David Carlson, Direktur Program Penelitian Iklim Dunia.
Carlson menyatakan El Nino ini juga dapat diikuti secara tiba-tiba oleh fenomena La Nina, bersama dengan pemanasan global, menambah ketidakpastian pada prediksi pola iklim.
"Saya kira kita semua memperkirakan sinyal pemanasan iklim mulai muncul dalam catatan El Nino," katanya.
Namun dia menambahkan masih belum jelas bagaimana pemanasan global dipengaruhi oleh frekuensi atau kekuatan El Nino.
Sejak tahun 1950, fenomena El Nino yang kuat terjadi pada 1972 hingga 1973, 1982 hingga 19833 dan 1997 hingga 1998. (ama/ama)