Seperti dilansir Reuters, Jason Shiao dan putrinya, Lynn Leung, ternyata sudah mengajukan 70 aplikasi bagi imigran yang ingin menjadi warga negara AS sejak 2006. Namun, kejanggalan baru terendus oleh pihak berwenang saat mereka merancang satu pernikahan palsu.
Awalnya, perempuan warga China ini mengira bahwa pernikahan yang dirancang akan menjadi rumah tangga sungguhan. Ia pun rela mengeluarkan dana hingga US$50 ribu atau setara Rp716 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Operasi ini memang sudah biasa dilakukan. Yang membuat skenario Shiao dan Leung berbeda adalah biayanya, yaitu mencapai US$40 ribu hingga US$50 ribu.
"Ada periode kemakmuran di China. Ada beberapa orang berduit dan berkeinginan untuk bermigrasi ke Amerika Serikat," ujar agen khusus Keamanan Dalam Negeri AS, Claude Arnold.
Setelah mempelajari skenario duo ini, para personel agen khusus menggerebek satu gedung di Pasadena, Los Angeles, yang diduga merupakan kantor perusahaan hukum palsu Shiao.
Hingga kini, para agen masih memburu satu orang yang terlibat dalam skenario ini, Shannon Mendoza. Ia disinyalir merupakan perekrut warga AS yang nantinya dijadikan mempelai.
Jika terbukti bersalah, Shiao, Leung, dan Mendoza terancam diganjar hukuman lima tahun.
Membela tindakan kliennya, pengacara Leung, Errol Stambler, berkata, "Jika pernikahan itu sah, maka tidak ada yang salah dengan mencalokan pernikahan. Jika pada kenyataannya pernikahan itu tipuan, maka seharusnya ini kejahatan bagi semua orang, bukan hanya orang yang merancang pernikahan."
Seorang juru bicara dari Kejaksaan lantas mengatakan bahwa warga AS yang terlibat dalam skenario pernikahan palsu juga dapat diadili. Sayangnya, banyak mempelai palsu juga tak mendapatkan upah US$10 ribu, setara Rp143,2 juta, yang dijanjikan. (stu/stu)