Ratusan Warga AS Isi Petisi Tampung Imigran

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 08/09/2015 07:28 WIB
Ratusan Warga AS Isi Petisi Tampung Imigran PBB mengatakan 4 juta orang telah melarikan diri dari pertempuran sejak awal perang saudara di Suriah pada 2011. AS mengakui telah menerima sekitar 1.500 pengungsi, namun AS mendapat tekanan agar melakukan lebih. (Getty Images/Win McNamee)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan warga Amerika Serikat pada Senin (7/9) menawarkan diri untuk menampung pengungsi Suriah di rumah mereka. Mereka mengatakan dalam sebuah petisi online bahwa AS perlu melakukan lebih banyak untuk para imigran yang melarikan diri dari perang saudara.

Hampir 1.300 orang telah menandatangani petisi di situs MoveOn.org, menyerukan AS untuk mengangkat batasan bagi pengungsi Suriah ketika Eropa berjuang untuk mengatasi rekor jumlah pencari suaka.

PBB mengatakan 4 juta orang telah melarikan diri dari pertempuran sejak awal perang saudara di Suriah pada 2011. AS mengakui telah menerima sekitar 1.500 pengungsi, namun AS mendapat tekanan agar melakukan lebih.


Seorang penanda tangan petisi, Pendeta Everett Shattuck, 59, dari Mill Creek, Indiana, mengatakan membuka rumahnya untuk pengungsi adalah bagian dari tradisi AS menyambut imigran.

“Ditambah, kami harus berbagi tanggung jawab untuk (perang) itu karena rezim kami mengubah Timur Tengah. Kebanyakan dari pengungsi adalah hasil dari itu," kata Shattuck, menyinggung invasi AS ke Irak pada 2003.

Wendie Wilson-Miller, 40, dari Studio City, California, mengatakan dia telah menandatangani petisi sejak krisis Suriah tampak tak berujung dan nasib para pengungsi semakin mendesak.

Amerika Serikat, dan keluarganya, mampu untuk membantu, kata Wilson-Miller, seorang dokter dan ibu dari dua anak.

"Jika Amerika Serikat tidak membuka pintu bagi mereka dan berkata, ‘Ya, kami akan memungkinkan lebih banyak pengungsi,’ dan mereka membutuhkan lebih banyak keluarga, maka saya tahu saya akan melakukan sesuatu," kata dia.

Situs MoveOn mengatakan yang menandatangai petisi adalah keluarga, pasangan muda, mahasiswa, pasangan yang lebih tua yang anak-anak mereka telah pindah, serta orang lain yang memiliki ruangan bagi pengungsi.

Shannon Brown Lehnert, dari Enumclaw, Washington, menulis di MoveOn.org bahwa dia punya rumah mobil yang bisa diperbaiki.

Tetapi yang lain, meskipun menyambut pengungsi, khawatir bahwa ekstremis bisa masuk ke Amerika Serikat bersama dengan orang-orang yang melarikan diri dari pertempuran.

"Saya hanya berdoa bahwa tidak ada teroris yang menyamar sebagai pengungsi mencoba untuk masuk," tulis Patti Perry dari Cranberry Lake, New York.

Tekanan bagi AS, datang diantaranya dari David Miliband, kepala Komite Penyelamatan Internasional yang juga mantan menteri luar negeri Inggris. Ia mengimbau AS untuk memperlihatkan “sikap kepemimpinan yang biasa dilakukan AS dalam masalah-masalah semacam ini” di masa lalu.

“Amerika Serikat selalu terdepan dalam penempatan pengungsi, tetapi 1.500 orang dalam empat tahun merupakan sumbangan kecil dalam mengatasi sisi kemanusiaan masalah ini,” ujar Miliband di televisi ABC, Minggu (6/9). (stu)