TKI Flores Jadi Pahlawan Pendidikan di Perbatasan Malaysia

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Rabu, 21/10/2015 13:55 WIB
Tak pernah terbersit di benak Veronika sebelumnya, 24 tahun setelah hijrah ke Malaysia, ia menerima The Hassan Wirajuda Award 2015 di Jakarta. (Veronika Sedo Barek menerima penghargaan The Hassan Wirajuda Award 2015 kategori Mitra Kerja Perwakilan RI dari Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Selasa (20/10). (CNN Indonesia/Hanna Azarya Samosir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 1991, Veronika Sedo Barek, seorang perempuan asal Flores, hijrah ke Malaysia untuk mengadu nasib sebagai tenaga kerja Indonesia, menjadi buruh kebun sayur.

Tak pernah terbersit di benak Veronika sebelumnya, 24 tahun kemudian, tepatnya Selasa (20/10), ia dapat berdiri di podium The Hassan Wirajuda Award 2015 di Jakarta, menerima trofi penghargaan sebagai Mitra Kerja Perwakilan RI dari Kementerian Luar Negeri.

Semua bermula pada 2003. Kala itu, Veronika sedang bekerja di ladang di Keningau, kota di Sabah yang berjarak sekitar 130 kilometer dari Kinabalu. Hati Veronika terluka melihat anak dari seorang TKI tak bisa membaca.


"Orang tua mau anaknya sekolah, tidak mampu karena jarak ke sekolah jauh. Orang tua tidak bisa antar anaknya dari ladang sawit ke sekolah di kota," ujar Veronika.

Hati Veronika tergerak. Di tengah ladang, ia mengajarkan sembilan anak TKI baca tulis. Hingga akhirnya ia mendirikan sekolah di Asbon, Sabah.

Empat tahun kemudian, sekolah tersebut baru diakui oleh KBRI Kinabalu dan pemerintah Malaysia. Banyak tantangan yang ia alami, hingga puncaknya pada 2008, angkatan pertama sekolah Veronika tak mendapatkan tempat untuk mengikuti ujian kelulusan.

Hilang arah, ke KBRI Kinabalu akhirnya Veronika melangkah. Ia memohon agar kesembilan anak didiknya dapat mengikuti ujian di Kinabalu. Namun, saat itu KBRI Kinabalu menganjurkan agar anak-anak tersebut menempuh perjalanan ke Nunukan untuk mengikuti ujian.

"Saya tidak mau karena orang tua tidak akan mampu mengantarkan anak-anaknya ke Nunukan. Perwakilan ada, mengapa tidak diusahakan?" tutur Veronika.

Veronika akhirnya berjumpa dengan satu kepala sekolah dari Kuala Lumpur, Dadang Hermawan.

"Pada waktu itu, dia katakan belum ada sekolah Indonesia di Kinabalu, jadi saya diizinkan. Akhirnya dia beri buku Matematika, PPKN, Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS untuk diajarkan kepada anak-anak dengan syarat tahun depan anak-anak akan ikut ujian kesetaraan paket A," tutur Veronika.

Dengan jerih payah, Veronika berhasil meluluskan anak didiknya. Melihat keberhasilan ini, semakin banyak orang tua yang mempercayakan pendidikan anak mereka kepada Veronika.

Kini, Veronika telah mendirikan dua SD, satu Sekolah Menengah Pertama, dan satu Sekolah Menengah Atas dengan total siswa 802 orang. Dari dalam bilik-bilik sederhana, mereka membangun mimpi besar bersama.

Veronika pun terus membangun sekolahnya dengan biaya kolektif. Dalam satu bulan, siswa diminta untuk membayar 30 ringgit atau setara Rp95 ribu. Himpunan dana tersebut nantinya akan dipakai untuk menyewa rumah kongsi dengan biaya 600 ringgit atau setara Rp1,9 juta sebulan, menggaji 11 guru lainnya.

Meskipun sulit, Veronika tetap berusaha menyisihkan duit. Tabungan tersebut digunakan untuk membangun sekolah lainnya.

Tak sampai di situ, Veronika pun ingin anak didiknya memiliki daya saing. Ia pun mengusahakan agar tingkat akhir dari SD dan SMP bisa mendapatkan pengajaran intensif guna mempersiapkan diri menghadapi ujian kelulusan.

"Saya berpikir, anak kelas 6 SD dan 3 SMP tidak dapat tinggal di sana untuk mendapatkan pendidikan lebih. Saya mendirikan asrama untuk menampung anak-anak ada 75 orang, usaha saya sendiri sehingga akhirnya, anak-anak itu bisa lulus 100 persen," kata Veronika.

Veronika mengaku tak akan mampu melangkah tanpa kehadiran pemerintah. Beberapa kali, pemerintah setingkat menteri menyambangi sekolahnya, menanyakan keperluan.

"Dari Kemenlu itu sering ke tempat kami. Saya harapkan mudah-mudahan akan didatangkan guru-guru baru, guru bina dari Jakarta supaya bisa buka wawasan dan menampung lebih banyak anak," ucap Veronika.

Masalah pendidikan anak TKI di perbatasan, terutama Malaysia, memang menjadi sorotan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Lestari Priansari Marsudi. Setiap mengunjungi Malaysia sejak menjabat pada tahun lalu, Retno selalu menyempatkan diri mengunjungi atau mengurus masalah Community Learning Center bagi anak TKI.

Veronika sendiri hanyalah satu dari banyak sosok pahlawan bagi warga negara Indonesia di luar negeri. Beberapa dari mereka mendapatkan penghargaan The Hassan Wirajuda Award 2015 dari Kementerian Luar Negeri. (stu)