M15: Setahun, ISIS Rencanakan 6 Serangan Mematikan di Inggris

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Jumat, 30/10/2015 04:15 WIB
Kelompok militan ISIS sudah menyusun enam strategi serangan di Inggris pada tahun lalu dan diperkirakan bakal merencanakan lebih banyak lagi aksi teror. Ilustrasi ISIS. (CNN Indonesia/Fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok militan ISIS dilaporkan sudah menyusun enam strategi serangan di Inggris pada tahun lalu dan diperkirakan bakal merencanakan lebih banyak lagi aksi teror.

Andrew Parker, ketua badan intelijen Inggris, M15, mengatakan bahwa kini institusinya sedang mempersiapkan cara untuk menangkal tantangan tiga dimensi dari ISIS, yaitu di dalam negeri, mancanegara, dan daring. Menurut Parker, tingkat bahaya ancaman tersebut belum pernah ia temukan sebelumnya selama 32 tahun meniti karier.

"Lebih dari 750 ekstremis dari negara ini terbang ke Suriah dan pertumbuhan ancaman menunjukkan tanda-tanda mereda," ujar Parker saat memberikan pidato di London seperti dikutip The Independent, Kamis (29/10).


Menurut Parker, tantangan terbesar dari aksi ISIS adalah pengaruh propaganda internet. "Mereka memakai alat komunikasi modern dengan maksimal untuk menyebarkan pesan kebencian dan menginspirasi ekstremis. Terkadang, anak muda juga dapat melakukan serangan dengan cara yang mereka bisa," ucap Parker.

Kendati berhasil melacak rencana ISIS sehingga serangan tak terjadi, Parker mengingatkan bahwa ancaman tersebut tidak dapat disepelekan.

"Ini mungkin belum mencapai puncaknya. Meskipun kami sudah sukses, kami tidak akan pernah bisa yakin dapat menghentikan semuanya," katanya.

Belum lagi, kata Parker, Inggris juga masih dibayangi ancaman teror dari al-Qaidah. "Semua ini menunjukkan bahwa ancaman yang kami hadapi sekarang ada di skala dan tempo yang belum pernah saya lihat sebelumnya sepanjang karier saya," ucap Parker.

Untuk membendung gelombang teror tersebut, Parker menekankan pentingnya regulasi Kekuatan Investigasi yang akan dipublikasikan oleh parlemen Inggris pada 10 November mendatang.

Rancangan aturan tersebut akan memperluas kekuatan intelijen dan kepolisian untuk menggunakan berbagai alat pengawasan untuk penyelidikan dan menghimpun data di era digital. Rancangan ini juga akan mengedepankan gaya baru pengawasan dan regulasi pelatihan bagi badan yang akan menggunakan kekuatan tersebut.

"Kami membutuhkan alat untuk mengakses komunikasi teroris secara daring sama seperti kami mengintersepsi komunikasi tertulis dan panggilan telepon selama beberapa tahun ini," tutur Parker.

Parker mengatakan bahwa kemampuan untuk mengakses dan menganalisis data, termasuk siapa, kapan, dan di mana komunikasi terjadi, atau informasi mengenai perjalanan dan paspor akan menjadi lebih penting dari zaman sebelumnya. "Kami menggunakan data ini untuk menyelamatkan nyawa," katanya.

Namun, Parker memastikan bahwa kewenangan ini tidak akan disalahgunakan.

"Kami tidak dan tidak diizinkan meneliti orang tak bersalah. Kami menggunakan alat ini dalam kerangka kerja yang memiliki panduan dan pengawasan ketat, tapi tanpa ini, kami tidak dapat melindungi negara," kata Parker.

(stu)