Uni Eropa saat ini sedang berjuang menghadapi gelombang imigran yang melarikan diri dari perang dan kemiskinan di Timur Tengah, Asia dan Afrika. Ekonomi terbesar Eropa, Jerman, diprediksi akan menerima 800 ribu hingga satu juga pengungsi tahun ini saja.
China sendiri berulang kali mendesak solusi politik lewat perundingan untuk mengakhiri konflik di Suriah, dan memperingatkan bahwa intervensi senjata hanya akan memperburuk keadaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Mengopi secara mekanis 'revolusi warna’ dari Barat untuk pembangunan dan sistem politik, tidak hanya tidak akan mengarah pada demokrasi dan perbaikan kehidupan yang diharapkan rakyat, tetapi akan menyebabkan lingkaran setan kekerasan dan pertumpahan darah," tulis Wu, yang kini menjadi penasehat kementerian luar negeri China.
Istilah "revolusi warna" mengacu pada pemberontakan yang dialami oleh negara-negara bekas Soviet, seperti Ukraina, untuk menggulingkan rezim yang berkuasa dalam waktu lama.
Menurut Wu, Eropa sedang membayar harga untuk dukungannya terhadap gerakan di Timur Tengah.
"Kebijakan ikut campur dari Amerika Serikat, Eropa dan negara-negara Barat lainnya dan percobaaan mereka untuk mendorong nilai-nilai mereka sendiri untuk mengubah Timur Tengah telah membeli gejolak jangka panjang dan telah menjadi pendorong penting gelombang pengungsi ini,” kata dia.
China tak bermain banyak dalam diplomasi di Timur Tengah meskipun bergantung pada daerah itu untuk minyak. Meski begitu, China telah berusaha memainkan peran yang lebih aktif, termasuk menunjuk utusan khusus sendiri bagi Timur Tengah. (stu)