Teror di Paris Hanya Berselang Bulan Sejak Charlie Hebdo

Ike Agestu, CNN Indonesia | Sabtu, 14/11/2015 17:01 WIB
Paris kembali diserbu teror hanya beberapa bulan sejak insiden di kantor majalah satire Charlie Hebdo, menimbulkan pertanyaan soal upaya pencegahan terorisme. Paris kembali disebu teror hanya beberapa bulan sejak insiden di kantor majalah satire Charlie Hebdo, menimbulkan pertanyaan soal upaya pencegahan terorisme oleh otoritas. (Reuters/Gonzalo Fuentes)
Jakarta, CNN Indonesia -- Awalnya, Jumat (13/11) malam di Paris berlangsung seperti biasanya. Penduduk lokal dan wisawatan mengunjungi restoran, menonton konser, keluar malam di malam menjelang akhir pekan.

Namun Paris menghadapi serangan teror, dan ini adalah kali kedua dalam jangka waktu kurang dari satu tahun. Januari lalu, Paris sempat diguncang ketika sekelompok orang menyerang kantor majalah satire Charlie Hebdo.

Serangan kali ini terjadi di luar stadion nasional Stade de France di Saint-Denis, dimana tiga bom meledak. Serangan penembakan juga terjadi di beberapa restoran serta gedung konser Bataclan.


Bataclan sendiri hanya berjarak beberapa ratus meter dari kantor Charlie Hebdo.

"Saat kami menuju mobil, kami melihat puluhan orang berlari keluar dari Bataclan," kata warga lokal Caterina Giardino. Gedung Bataclan tadinya merupakan gedung teater namun kini berubah fungsi menjadi gedung konser yang berkapasitas 1.500 orang.

Sedikitnya 112 orang dari 153 orang yang dilaporkan menjadi korban, tewas di Bataclan.

"Banyak dari mereka bersimbah darah, orang-orang berteriak," tambahnya.

Slogan Islam

Ledakan pertama terdengar di luar stadion nasional Stade de France pada pukul 21.17 waktu setempat. Sekitar dua menit kemudia, ledakan kedua terdengar.

Belum ada klaim tanggung jawab dari pihak manapun terkait serangan, namun para saksi di Bataclan mendengar slogan Islam dan mengutuk peran Perancis dalam serangan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat di Suriah.

Julien Pearce, wartawan radio yang berada di Bataclan ketika serangan berlangsung, mengaku sempat melihat pelaku sebelum ia melarikan dari gedung.

Ia mengaku melihat dua orang yang disebutnya sebeagai teroris masuk ke gedung, "sangat tenang, bertekad," lalu "menembak dengan acak."

Mereka, menurut Pearce, memakai pakaian hitam tanpa topeng. Ia melihat wajah penembah, yang masih sangat muda, maksimal berumur 25 tahun.

"Ia seperti laki-laki acak yang memegang sebuah Kalashnikov. Itu saja," kata Pearce.

Kepanikan

Di luar Bataclan, kepanikan melanda. Kepala Polisi Paris Michel Cadot mengatakan bahwa pria bersenjata melepas tembakan ke wilayah kafe di sekitar Bataclan.

Saksi mengatakan seorang pria berlari di jalanan sambil berteriak "Perang telah pecah!"

Pekerja darurat masih sibuk di sekitar lokasi, pun ambulans menyerbu masuk ke Bataclan.

Tak lama setelah tengah malam, suara tembakan beruntun terdengar dari dalam gedung, tak lama setelah Presiden Perancis Francois Hollande mengatakan operasi sedang berjalan untuk membebaskan mereka yang masih terjebak di dalam gedung.

"Operasi polisi sangat sulit. Teroris yang mengunci diri mereka di salah satu lantai dililit bom bunuh diri yang mereka ledakkan, dan empat orang terbunuh dalam operasi," kata Cadot.

Hollande mengumumkan negara dalam keadaan darurat tak lama setelah serangan.

Sementara itu, menteri dalam negeri Perancis menolak mengatakan apakah ada pelaku yang berhasil membebaskan diri.

Serangan kali, ini membuat kota mode dunia itu berduka, mencekam, dan meninggalkan banyak tanya.

Jika memang karena perang Perancis dalam koalisi serangan udara melawan ISIS di Suriah, mengapa hanya Perancis yang diserang? Bukan negara lain yang juga bergabung dalam koalisi?

Serangan ini hanya berselang beberapa bulan sejak Charlie Hebdo pada Januari lalu, ketika Perancis meningkatkan keamanan merespons kelompok teror yang mengaku berhubungan dengan al-Qaidah Yaman. Apakah aparat Perancis sudah melakukan upaya maksimal untuk mencegah serangan teroris setelah insiden Charlie Hebdo?

Bisakah Perancis mencegah serangan selanjutnya? (Baca Fokus: Paris Diserbu) (Reuters/stu)