Perancis Selidiki Radikalisasi Pekerja Trasportasi Publik

CNN, CNN Indonesia | Kamis, 26/11/2015 14:19 WIB
Masih siaga pascateror pada 13 November, Perancis melakukan penyelidikan terkait radikalisasi karyawan yang bekerja di bidang transportasi publik. Masih siaga pascateror pada 13 November, Perancis melakukan penyelidikan terkait radikalisasi karyawan yang bekerja di bidang transportasi publik, termasuk di bandara utama seperti Charles de Gaulle. (Reuters/Eric Gaillard)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan intelijen Perancis menginvestigasi radikalisasi di antara pekerja transportasi publik di bandara-bandara utama Paris dan operator transportasi publik.

Seorang sumber kontraterorisme Perancis mengatakan kepada CNN bahwa pengawasan itu telah berlangsung selama beberapa tahun, termasuk terhadap layanan kereta api nasional SNCF, perusahaan transportasi publik Paris RATP dan bandara seperti Roissy Charles de Gaulle dan Orly.

Samy Amimour, satu dari tiga penyerang di gedung konser Bataclan pada 13 November lalu, merupakan sopir bus RATP hingga Oktober 2012.


Amimour, 28, telah berada di bawah pengawasan aparat keamanan Perancis sejak 2012 setelah otoritas menyelidiki ia mencoba bepergian ke Yaman. Ia didakwa atas “aktivitas dalam kolaborasi dengan kelompok teroris.” Namun perjalanannya ke Suriah lalu kembali lagi ke Perancis tidak tercatat.

Meski pihak intelijen mengetahui soal radikalisasi Amimour, namun tidak RATP, menurut Presiden RATP, Elisabeth Borne. Pihak perusahaan di Perancis biasanya memang tidak diberitahu soal staf yang kemungkinan memiliki hubungan dengan terduga teroris.

Sejak beberapa tahun belakangan, serikat transportasi darat dan udara telah mengeluhkan soal radikalisasi di antara pekerjanya.

“Ini dimulai sekitar akhir 2012, awal 2013 di mana beberapa sopir dan pekerja RATP menolak untuk menyapa perempuan atau berdoa di dalam bus selama waktu kerja,” kata Christophe Salmon, kepala Serikat CFDT di RATP.

“Menurut prisip sekuler di dalam perusahaan, sama sekali tidak dibolehkan menunjukkan tanda religius apapun,” ujar Salmon.  

Pekan lalu, polisi bandara Perancis melakukan pencarian di ebbrapa perusahaan yang karyawannya bekerja di bandara, beberapa yang memiliki akses ke landasan dan pesawat, menurut Christophe Blondel, wakil ketua polisi bandara.
Otoritas bandara Perancis mengatakan bahwa polisi menyelidiki target spesifik tiga perusahaan di Charles de Gaulle: Air France Cargo, Servair, dan FedEx.

Keliga perusahaan itu mengonfirmasi penyelidikan telah dilakukan dan bahwa tidak ada dari karyawan mereka yang diberhentikan.  Blondel mengatakan bahwa sejauh ini tidak ada pemberhentian karena penyelidikan masih berlangsung. (stu)