Erdogan Siap Mundur Jika Terbukti Turki Beli Minyak ISIS

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Selasa, 01/12/2015 22:32 WIB
Erdogan Siap Mundur Jika Terbukti Turki Beli Minyak ISIS Menyusul insiden jatuhnya pesawat Rusia, Vladimir Putin menyebut Turki coba melindungi jalur perdagangan minyak dengan ISIS. (Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan siap mundur dari posisinya jika tuduhan Vladimir Putin yang mengatakan Turki sengaja menembak jet tempur Rusia untuk melindungi perdagangan minyak mereka dengan ISIS terbukti benar.

"Secepatnya jika tuduhan itu terbukti, kemuliaan negara kami mengharuskan saya melakukan itu (mundur)," kata Erdogan kepada wartawan di sela KTT Perubahan Iklim di Paris, Senin (30/11), dikutip dari CNN.

Namun dia mengatakan, jika tuduhan itu tidak benar, maka Putin yang harus mundur dari posisi presiden Rusia. "Saya tanya kepada Anda, Tuan Putin, apakah masih akan bertahan?" ujar Erdogan.


Pernyataan Erdogan ini merupakan bukti meningkatnya ketegangan kedua negara menyusul jatuhnya pesawat Rusia setelah ditembak jet tempur Turki pada 24 November lalu. Seorang pilot Rusia tewas, Turki bersikeras jet Su-24 itu telah melanggar batas wilayah mereka.

Putin marah besar atas insiden itu dan memerintahkan pembalasan dengan melakukan sanksi dan embargo ekonomi terhadap Turki. Usai peristiwa itu, Rusia juga mengerahkan sistem peluncur rudal di Latakia, wilayah Suriah yang berbatasan dengan Turki.

Awal pekan ini, Putin menyampaikan bahwa Turki sengaja menembak jatuh pesawat mereka demi melindungi jalur perdagangan minyak dengan ISIS. Pertahanan wilayah, kata Putin, hanya alasan semata.

"Kami mendapatkan laporan bahwa minyak dari wilayah yang dikuasai ISIS dikirim ke Turki dalam skala industri. Kami punya bukti di lapangan bahwa pesawat kami dijatuhkan untuk melindungi rute pengiriman minyak dari pelabuhan tempat pemindahan minyak ke kapal tanker," papar Putin.

Erdogan membantah keras tuduhan itu.

"Telah jelas dari mana kami membeli minyak dan gas alami secara sah. Semua orang harus paham kami tidak sebegitu hinanya untuk berurusan dengan organisasi teroris," tegas Erdogan yang diberitakan kantor berita Anadolu.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengimbau Turki untuk menurunkan ketegangan dengan Rusia. Pasalnya, menurut Obama, bertikaian kedua negara justru melemahkan upaya global melawan ISIS di Suriah dan Irak.

Kendati demikian, berbicara pada Selasa (1/12) di Paris, Obama kembali menegaskan dukungan AS kepada Turki yang juga merupakan negara anggota NATO.

"AS mendukung hak Turki mempertahankan diri dan wilayah udara serta daratnya. Kami berdiskusi dengan Turki dan Rusia bagaimana cara menurunkan ketegangan dan menemukan jalur diplomatis untuk menyelesaikan masalah ini," kata Obama. (den)