Nimr Al-Nimr, Ulama yang Perjuangkan Hak Warga Syiah di Saudi

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Senin, 04/01/2016 15:14 WIB
Nimr al-Nimr merupakan salah satu kritikus dari kelompok Syiah yang paling vokal yang memperjuangkan kesetaraan Syiah di mayoritas penduduk Sunni di Saudi. Nimr al-Nimr merupakan salah satu kritikus dari kelompok Syiah yang paling vokal yang memperjuangkan kesetaraan Syiah di mayoritas penduduk Sunni di Saudi. (Dok. Saudi-Security)
Jakarta, CNN Indonesia -- Eksekusi Nimr al-Nimr menjadi titik puncak buruknya hubungan Iran dan Arab Saudi. Eksekusinya memicu para pengunjuk rasa menyerbu kantor kedutaan besar Saudi di Teheran pada Minggu (3/1), dan membuat Saudi memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Iran.

Nimr merupakan salah satu kritikus dari kelompok Syiah yang paling vokal yang memperjuangkan kesetaraan Syiah di mayoritas penduduk Sunni di Saudi. Menghabiskan berpuluh tahun belajar di Iran, Nimr kerap kali ditangkap oleh otoritas Saudi.

Nimr kerap menyerukan pemisahan Provinsi Timur Arab Saudi yang diyakini kaya minyak, tempat mayoritas komunitas Syiah berdiam. Ia menyebut Muslim Sunni yang tinggal di sana adalah warga asing.


"Martabat kami lebih berharga daripada persatuan tanah ini," kata Nimr dalam sebuah khotbah pada 2009, dikutip dari CNN

Saat bertemu dengan seorang diplomat AS tahun lalu, Nimr mengatakan bahwa kaum Syiah di Saudi "diutus untuk membantu kekuatan asing sehingga mereka harus terlibat dalam konflik." Menurut diplomat tersebut, kekuatan asing yang dimaksud sudah pasti adalah Iran.

Iran memang berpenduduk mayoritas Syiah, berbeda dengan Saudi. Di Saudi, banyak keluhan diskriminasi dari kaum Syiah.

Nimr akhirnya menyerukan agar keluarga raja Saudi turun takhta. Namun, ia meminta para pengikutinya untuk tidak "melawan peluru dengan peluru." Nimr mengajak pengikutinya untuk melakukan demonstrasi dan pembangkangan sipil.

Sebuah kabel diplomatik AS pada 2008 memprediksi bahwa Nimr akan terus menyerukan reformasi. "Itu sesuai dengan visinya bahwa ketidakstabilan adalah satu-satunya cara mempercepat perubahan nyata di Arab Saudi," demikian bunyi kabel diplomatik tersebut.

Pengaruh Nimr terbatas

Namun, beberapa kabel diplomatik AS periode 2008-2012 yang dirilis WikiLeaks menggambarkan bahwa pengaruh Nimr di antara komunitas Syiah Saudi sebenarnya terbatas.

Seorang analis Saudi yang kini menjadi konsultan politik di Dubai, Aimen Dean, bahkan mengatakan bahwa Nimr tak pernah berada di daftar teratas ulama Syiah. Khotbahnya kebanyakan menggunakan bahasa sehari-hari, bukan Arab klasik.

Namun, basis pendukungnya sebagian besar merupakan anak muda yang termarjinalkan di Al-Awamiyah, desa di Provinsi Timur yang dikelilingi perkebunan kurma dan penduduknya sangat militan.

Kabel diplomatik AS pada 2008 mengungkap bahwa Al Awamiyah merupakan desa paling kasar dan rawan kekerasan di daerah Qatif.

Tokoh senior Syiah di Arab Saudi, seperti Sheikh Hassan al-Saffar, menjaga jarak dari Nimr. Namun, Nimr mendapatkan dukungan dari militan faksi Syiah di Irak dan beberapa ulama Iran. Hal ini mendapat perhatian besar dari pihak otoritas Saudi.

Setelah beberapa kali dibekuk, Nimr ditahan untuk terakhir kalinya pada Juli 2012. Otoritas Saudi mengatakan bahwa Nimr menolak ditahan dan merencanakan penembakan hingga akhirnya menabrak salah satu mobil patroli keamanan ketika mencoba kabur.

Polisi lantas menembak balik dan melukai paha Nimr. Keluarga Nimr membantah alur peristiwa versi resmi tersebut. Dua orang tewas dalam aksi protes terkait penolakan tersebut.

Nimr kemudian diadili dengan tuduhan memantik perang sektarian, melakukan teror, dan melecehkan pemimpin negara-negara Teluk. Meskipun dikecam oleh banyak kelompok pemerhati hak asasi manusia, pengadilan tetap menjatuhkan hukuman mati bagi Nimr pada Oktober 2014 lalu.

Eksekusi Nimr pada Sabtu (2/1) dinilai mengejutkan dan menyebabkan krisis regional, memantik kecaman Irak, Iran, dan pejabat senior PBB. Peneliti senior dari Universitas Oxford, Toby Matthiesen melihat kejanggalan dalam pemilihan waktu eksekusi Nimr. "Gerakan protes Syiah di Provinsi Timur sudah berhenti," tutur Matthiesen.

Namun, Matthiesen menganggap bahwa keputusan untuk mengeksekusi Nimr merupakan pilihan paling tidak berbahaya bagi pemerintah Saudi. "Jika mereka menjatuhkan hukuman penjara, ia akan dianggap pahlawan oleh pengikut Syiah-nya karena Saudi terkesan takut kepada Iran dan Syiah. Sunni di Saudi juga akan sangat marah," ucap Matthiesen.

Ia berpandangan bahwa Nimr kemungkinan dieksekusi untuk menggalang dukungan dari beberapa kalangan. "Itu kemungkinan cara untuk mendapat dukungan dari Sunni [di Saudi], dan kemungkinan dari segmen besar Saudi yang simpati terhadap ISIS atau kebijakan anti-Syiah dan anti-Iran lainnya," kata Matthiesen. (ama/ama)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK