Saudi Eksekusi Ulama Syiah, Hubungan dengan Irak Terancam

Amanda Puspita Sari/Reuters, CNN Indonesia | Senin, 04/01/2016 16:41 WIB
Eksekusi ulama Syiah oleh Arab Saudi pada akhir pekan lalu diperkirakan dapat merusak upaya perbaikan hubungan antara Saudi dengan Irak. Eksekusi ulama Syiah oleh Arab Saudi pada akhir pekan lalu diperkirakan dapat merusak upaya perbaikan hubungan antara Saudi dengan Irak. (Reuters/Shannon Stapleton)
Jakarta, CNN Indonesia -- Eksekusi ulama Syiah oleh Arab Saudi pada akhir pekan lalu diperkirakan dapat merusak upaya perbaikan hubungan antara Saudi dengan Irak. Sejumlah politisi, anggota milisi dan ulama Irak terkemuka menyerukan pemutusan hubungan diplomatik terhadap Saudi, yang baru saja akan kembali dimulai.

Pekan ini, kantor kedutaan besar Saudi di Baghdad kembali dibuka. Sebelumnya, kedubes Saudi di Baghdad ditutup akibat memburuknya hubungan kedua negara karena invasi Irak ke Kuwait pada 1990 silam. Perbaikan hubungan Saudi-Irak menggarisbawahi kerja sama regional untuk meningkatkan perlawanan terhadap kelompok militan ISIS.

Namun, eksekusi ulama terkenal Nimr al-Nimr pada Sabtu (2/1) memicu kecaman dari berbagai pihak yang menyerukan agar kedutaan Saudi di Irak tetap ditutup.


"Saya mendesak pemerintah untuk menahan diri dan tidak membuka kedutaan Saudi," kata tokoh ulama Syiah Irak, Moqtada al-Sadr dalam sebuah pernyataan, menyerukan aksi protes terhadap eksekusi Nimr, baik di negaranya dan di negara Teluk lain.

Milisi yang didukung Iran, Asaib Ahl al-Haq menuduh Saudi berusaha menjadikan eksekusi Nimr sebagai bahan bakar perselisihan antara Sunni-Syiah.

"Apa gunanya kedutaan besar Saudi di Irak?" bunyi pernyataan dari sebuah kelompok bersenjata.

Qassim al-Araji, pemimpin dari Organisasi Badr, kelompok paramiliter Syiah Iran lainnya terkait dengan sayap politik, meminta pemerintah Iran untuk memutuskan hubungan diplomatik "dengan segera". Dia mengatakan eksekusi Nimr telah "membuka gerbang neraka."

Arab Saudi dieksekusi 47 orang pada Sabtu (2/1) termasuk Nimr, yang dinilai menyerukan aksi kekerasan terhadap polisi. Nimr merupakan salah satu kritikus dari kelompok Syiah yang paling vokal yang memperjuangkan kesetaraan Syiah di mayoritas penduduk Sunni di Saudi.

Saudi telah lama menuduh Irak, yang menjadi salah satu produsen minyak terbesar di Timur Tengah, memiliki hubungan yang terlalu dekat dengan Iran, yang mayoritas penduduknya Syiah, dan mendorong diskriminasi sektarian terhadap Sunni, biaya Baghdad menyangkal.

Beberapa politisi Irak menilai Saudi berada di balik munculnya ISIS, meskipun hal ini ditampik oleh Saudi.

Humam Hamoudi, seorang politisi Syiah terkemuka dan anggota dari Dewan Tertinggi Islam yang kuat di Irak (ISCI), memperingatkan bahwa eksekusi Nimr ini akan menguntungkan kelompok militan ISIS, karena konflik sektarian antara Sunni dan Syiah semakin memburuk.

Mantan Perdana Menteri Irak, Nuri al-Maliki menyatakan keputusan untuk mengeksekusi Nimr akan menggulingkan pemerintah Saudi "sebagaimana kejahatan mengeksekusi martir (Muhammad Baqir) al-Sadr terhadap Saddam (Hussein)," mengacu pada ulama Syiah terkemuka lain yang dibunuh oleh pemerintah Irak pada 1980. (ama/ama)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK