Video yang beredar pekan lalu menunjukkan kemungkinan bergabungnya empat kelompok militan Islam, termasuk Abu Sayyaf, dan mendirikan "wilayat", atau provinsi Negara Islam, di Filipina selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pernyataan terbaru dari pemimpin kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon merupakan bagian dari propaganda mereka, dan tidak mencerminkan adanya operasi teror ISIS di negara ini," ujar Padilla.
Hapilon merupakan salah satu buronan yang paling dicari. Imbalan mencapai US$5 juta akan diberikan bagi siapapun yang dapat memberikan informasi berguna untuk menangkap pemimpin Abu Sayyaf ini. Hapilon merupakan satu-satunya pemimpin Abu Sayyaf yang masih hidup, yang terlibat dalam penculikan 20 sandera, sebagian besar merupakan turis asal Barat, di pulau Sipadan, Malaysia Timur, tahun 2000.
Pulau Basilan dan Jolo merupakan markas Abu Sayyaf, yang dikenal sebagai daerah yang rawan penculikan, pemenggalan dan pengeboman. Abu Sayyaf merupakan salah satu faksi pemberontak Muslim garis keras di wilayah selatan Filipinan, yang sebagian besar beragama Kristen.
Seorang pejabat intelijen militer yang tak ingin namanya dipublikaskan juga membantah kemungkinan adanya "wilayat" yang didirikan di Filipina selatan.
"Para militan setempat hanya tertarik dalam menghasilkan uang, dan mereka yang tertarik dengan ideologi Islam lebih suka berangkat ke Suriah dan Irak, terutama yang berasal dari Malaysia dan Indonesia," kata pejabat intelijen tersebut kepada Reuters.
"[Pemberontak] di selatan merupakan kriminal yang bersembunyi di balik topeng ISIS untuk mendapatkan tebusan uang," ujarnya.