Algojo Baru ISIS Dikenali Adiknya

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Rabu, 13/01/2016 14:47 WIB
Algojo Baru ISIS Dikenali Adiknya Jihadi John, eksekutor terkenal ISIS yang dikabarkan tewas dalam serangan udara pada November lalu. (SITE Intel Group/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika ISIS melansir video propaganda terakhirnya pekan lalu, semua mata langsung tertuju pada sosok algojo baru. Berbusana serba hitam, menodongkan senjata, dan wajah tertutup topeng, ia mengucapkan kalimat ancaman dengan aksen London yang kental.

Menurut CNN, sosok ini kemungkinan memang dibuat semirip mungkin dengan Jihadi John, eksekutor terkenal ISIS yang dikabarkan tewas dalam serangan udara pada November lalu.

Media sosial langsung sibuk menerka identitas asli dari orang yang selama ini hanya disebut sebagai "Jihadi John baru" tersebut.


Sementara pihak berwenang masih terus berusaha mengonfirmasi indentitas pria tersebut, badan-badan keamanan lainnya mulai berfokus pada satu orang berusia 32 tahun yang pindah agama dari Hindu ke Islam dan menyebut dirinya Abu Rumaysah.

Namun hingga kini, Menteri Dalam Negeri Inggris, Theresa May, enggan berkomentar mengenai Abu Rumaysah dan mengatakan bahwa proses investigasi masih terus berlanjut.

Merujuk pada data intelijen, Rumaysah sudah pernah ditahan atas tuduhan keterlibatan dalam organisasi terlarang dan kasus terorisme lainnya. Ia bebas dari tahanan pada September 2014. Rumaysah bersama istri dan anaknya lantas hijrah dari Inggris ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Abang saya, Sid

Sementara semua pihak masih terus melakukan konfirmasi, seorang mahasiswa hukum berusia 29 tahun, Konika Dhar, mengatakan bahwa nama sosok dalam video tersebut bukan Abu Rumaysah, melainkan Siddhartha Dhar, abangnya sendiri.

Konika menuturkan kisahnya kepada CNN dalam sebuah bincang-bincang santai.

"Ia merupakan tipikal abang pada umumnya. Ia suka bermain basket, dan cukup jago, permainan video, dan menonton film. Dia juga suka mengoleksi komik. Sangat tipikal abang yang baik," tutur Konika.

Ketika diwawancarai, perempuan tersebut sangat hati-hati saat bercerita mengenai abangnya.

Konika sepertinya ingin dunia melihat sisi lain dari abangnya melalui kisah-kisah saat mereka tumbuh bersama. Konika bahkan menunjukkan foto Sid yang berseri ketika memotong kue ulang tahunnya.

"Ia sangat bersahabat, santai, dan tidak terlalu memerhatikan masalah politik atau papun," kata Konika.

Namun, sikap Sid berubah saat ia berpindah agama menjadi Islam. Ia tak mau melahap makanan yang disiapkan ibunya karena tidak halal.

Sid mulai bergaul dengan Anjem Choudary, seorang pengacara yang berubah menjadi penceramah Islam radikal. Choudary diadili atas tuduhan mendukung ISIS secara daring.

Tak diizinkan mengasihi orang non-Muslim

Dalam wawancara CBS dengan Rumaysah sebelum hijrah dari Inggris, pria tersebut mengaku bahwa ia tak diperbolehkan menyayangi semua orang di dalam keluarganya, tak terkecuali ibunya.

"Ia adalah ibu saya dan ia berhak atas saya jadi saya merawatnya. Saya harus menjaganya. Saya harus memastikan bahwa ia aman. Saya memenuhi tanggung jawab saya. Namun, saya tidak diizinkan menyayangi orang non-Muslim. Ini adalah masalah kepercayaan," katanya.

Konika mengaku kaget dan sangat sedih saat menonton wawancara tersebut di layar kaca.

"Satu hal yang saya sadari adalah dia benar-benar meninggalkan idenitasanya, itu yang menyedihkan karena dia memiliki kepribadian paling bewarna dan kreatif, dan saya tidak tahu ke mana itu semua menghilang, tapi semuanya sudah hilang. Ada perasaan bersalah. Saya merasa, mengapa saya tidak bisa mencegahnya? Apakah kami begitu buruknya sehinga kamu meninggalkan kami? Kamu harus menjalani kehidupan lain?" tutur Konika.

Konika lantas mengatakan bahwa ia sangat ingin meyakini bahwa pria di dalam video ISIS tersebut bukan abangnya. Ia sangat ingin menyangkal bahwa pembunuh itu adalah anak yang selama ini tumbuh bersamanya.

Namun dalam beberapa perbincangannya bersama Sid sejak bergabung dengan ISIS, tak ada sama sekali gelagat penyesalan dari abangnya tersebut.

Konika mengatakan bahwa secara intuisi ia meyakini bahwa abangnya tidak senang. Ia yakin, abangnya hanya merupakan korban dari pencucian otak. Konika takut hal tersebut justru akan semakin parah saat Sid sudah berada di Suriah.

Ia ingin abangnya tahu bahwa keluarganya sangat menyayangi serta merindukannya dan pintu akan terus terbuka jika Sid ingin kembali. Kendati demikian, Konika kembali ragu dan gamang.

"Saya merasa bingung dengan keinginan untuk menyelamatkannya, tapi pada saat bersamaan saya juga sedih. Saya pikir, ini adalah proses penerimaan yang sangat lamban. Saya pikir, sekarang saya memasuki tahap menerima kenyataan. Saya tidak yakin kesedihan ini akan berakhir," katanya.