Kartun Charlie Hebdo Soal Bocah Suriah Kembali Picu Kecaman

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Jumat, 15/01/2016 15:28 WIB
Kartun Charlie Hebdo Soal Bocah Suriah Kembali Picu Kecaman Ilustrasi, kantor majalah Charlie Hebdo (Wikimedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Majalah satire Perancis Charlie Hebdo kembali menuai kecaman akibat karikatur yang dinilai rasis. Dalam karikatur kali ini, Charlie Hebdo menyinggung soal tuduhan pelecehan seksual oleh para pengungsi Suriah menggunakan perumpaan Alan Kurdi, bocah pengungsi tiga tahun yang mayatnya terdampar di pantai Turki tahun lalu, .

Diberitakan Reuters, Kamis (14/1), Charlie Hebdo dalam karikaturnya menggambarkan soal masa depan Alan Kurdi jika dia masih hidup.

Dalam gambar, disebutkan bahwa Alan akan menjadi pelaku pelecehan seksual jika dia masih hidup. Hal ini dipertegas dengan judul besar "Akan jadi apa Alan jika dia tumbuh besar? Tukang meraba di Jerman."


Pada kartun digambar dua orang pria yang mengejar para wanita yang ketakutan. Gambar mayat Alan Kurdi terdapat di pojok kiri atas. Ini adalah kali kedua Charlie Hebdo menggambar Alan Kurdi, sebelumnya Charlie Hebdo mengolok kematian Kurdi lewat kartun.

Kartun ini dibuat menyusul serangan terhadap wanita di Cologne dan kota-kota lain di Jerman pada Malam Tahun Baru, yang diduga dilakukan para pengungsi, dengan lebih dari 600 aduan polisi.

Peristiwa itu memicu pertanyaan soal kebijakan Kanselir Jerman Angela Merkel yang menerima lebih dari 1 juta pengungsi tahun lalu, terbanyak di Eropa.

Protes terhadap kartun di majalah Charlie Hebdo. (Dok. twitter/@sunny_hundal)
Kartun terbaru Charlie Hebdo lagi-lagi memicu kecaman di media sosial. Kebanyakan mengatakan kartun itu rasis, sebagian mempertanyakan kembali sikap pada pendukung majalah itu yang menggemakan "Je Suis Charlie" saat terjadi penembakan yang menewaskan 12 orang di Paris Januari tahun lalu.

"Kartun Charlie Hebdo yang rasis dan menjijikkan ini membuat saya mempertanyakan 'Je Suis Charlie'," ujar wartawan Australia Ebony Bowden dalam akun Twitternya, dikutip CNN.

Wartawan Irak Mina Al-Oraibi dalam Twitter-nya menuliskan, "Kartun terbaru Charlie Hebdo yang merendahkan kenangan soal Alan Kurdi tidak bisa dimaafkan."

Maajid Nawaz, ketua lembaga think-tank asal London, Quilliam, mengatakan di Facebook bahwa satire Charlie Hebdo bisa diinterpretasikan beragam, tidak melulu rasis, tapi soal kritik sosial.

"Selera itu selalu soal pandangan mata yang melihat. Tapi kartun ini adalah bentuk protes terhadap sentimen anti-pengungsi kita," ujar Nawaz.

Charlie Hebdo menolak berkomentar saat dihubungi CNN.