"ISIS menunjukkan sikap defensif di Irak dan Suriah. Ke depannya, kami perkirakan mereka akan meningkatkan aksi teror seperti yang terjadi di Baghdad di Turki, dan paling baru di Indonesia," ujar Austin seperti dikutip Washington Times, Kamis (14/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Austin, ISIS akan meningkatkan aksinya di luar negeri untuk mengalihkan perhatian dunia terhadap kemunduran tersebut.
"ISIS ingin menjauhkan perhatian dari meningkatnya kemunduran yang mereka alami. Penting untuk dimengerti bahwa aksi teroris semacam ini bukan berarti ISIS bertambah kuat. Secara keseluruhan, kami justru membuat perkembangan pesat," kata Austin.
Kendati demikian, Austin mengakui bahwa pertarungan melawan ISIS masih akan terus berlanjut. "Pertempuran melawan ISIS masih jauh dari selesai. Seperti yang saya katakan kepada pasukan saya agar terus siaga," ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS, Ash Carter, menjabarkan dua perkembangan terbaru di Irak dan Suriah.
Kini, porsi pasukan khusus AS di Suriah diperkecil. Mereka akan bekerja sama dengan pasukan Arab dan Kurdi untuk mengepung Raqqa dan memberikan titik target kepada koalisi serangan udara. Sementara itu, ekspedisi dengan target pembunuhan para pemimpin ISIS di Irak mulai digencarkan.
Menurut Carter, merebaknya serangan ISIS di luar negeri merupakan indikasi bahwa gempuran di Irak dan Suriah harus diintensifkan.
"Pertumbuhan ISIS di dunia sangat mengkhawatirkan. Kami akan bertindak lebih banyak," katanya.
Sebelumnya, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah ledakan bom yang terjadi di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Insiden ini menewaskan tujuh orang, dua di antaranya merupakan warga sipil dan lima pelaku. (den)