Gaji Militan ISIS Dipotong 50 Persen

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Selasa, 19/01/2016 17:07 WIB
Gaji Militan ISIS Dipotong 50 Persen Pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi. (Anadolu Agency/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gaji para militan ISIS akan dipotong 50 persen karena hal tak terduga.

Hal ini disampaikan melalui laporan dari lembaga yang mengklaim sebagai Kementerian Keuangan ISIS pada bulan lalu. Dokumen tersebut sudah diterjemahkan oleh peneliti dari Forum Timur Tengah, Aymenn Jawad Al-Tamimi.

Di awal laporan tersebut, orang yang mengaku sebagai Menteri Keuangan ISIS, Abu Muhammad al-Muhajir, menjabarkan pengertian mengenai "kekayaan jihad" dan "jiwa jihad" secara panjang lebar.


Hingga akhirnya, al-Muhajir menulis, "Karena beberapa hal tak terduga yang dialami, ISIS memutuskan untuk mengurangi setengah upah yang dibayarkan kepada semua mujahidin tanpa terkecuali, apapun jabatannya."

Kemenkeu juga menyatakan bahwa sistem pemberian gaji masih tetap sama, yaitu dua kali dalam satu bulan.

Seperti dilansir RT, badan ISIS itu tak menjabarkan lebih lanjut mengenai "hal tak terduga" yang dimaksud.

Namun, tak lama setelah laporan ini tersebar, Pentagon mengumumkan bahwa kampanye mereka melawan ISIS akan mulai menyerang "buku cek" kelompok militan tersebut.

Pada 11 Januari, Departemen Pertahanan Amerika Serikat tersebut kemudian melansir video yang menunjukkan koalisi serangan udara menyerang depot kas ISIS di Mosul, Irak. Dalam video tersebut, terlihat bom menghantam satu bangunan. Uang kertas mengepul di udara.
Kepala Komando Pusat AS, Lloyd Austin, mengatakan kepada CNN bahwa itu merupakan serangan hebat yang merugikan ISIS hingga jutaan dolar.

AS mulai fokus menggempur infrastruktur keuangan ISIS sejak bulan lalu.

"ISIS membutuhkan pasokan dana tersebut untuk membayar militannya, merekrut orang baru, dan hal merugikan lainnya. Sejak awal kampanye ini, kami harus mencegah ISIS memiliki kemampuan untuk membangun sumber daya sendiri," tutur Austin.

Namun dalam masalah perkembangan serangan terhadap pos-pos militan, AS masih sangat tertutup memberikan data.

Sementara itu, serangan udara Rusia juga terus melakukan gempuran terhadap ISIS di Suriah. Sejak memulai operasi pada 30 September, Rusia mengklaim sudah melakukan 5.240 serangan.

Selain menyerang ribuan titik pos teroris, Rusia juga mengklaim telah menghancurkan sekitar 2.000 fasilitas infrastruktur minyak ISIS.
(stu)