Afrika Belum Tertarik dengan Indonesia

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Senin, 25/01/2016 17:54 WIB
Negara-negara besar seperti China dan AS mulai melirik Afrika sebagai mitra dagang, namun Indonesia masih sangat ketinggalan. Nilai perdagangan Indonesia ke Afrika Selatan berada di angka US$2 miliar. (Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika negara-negara besar, seperti China dan Amerika Serikat, mulai membidik Afrika sebagai mitra dagang, Indonesia masih dianggap ketinggalan. Menurut pengamat Afrika, Greg Mills, kurangnya hubungan dagang ini terjadi karena citra Indonesia di mata Afrika belum begitu baik.

"Di Indonesia, ada seminar-seminar kajian Afrika yang berarti Indonesia sudah mulai menyadari potensi Afrika. Namun di Afrika sendiri, belum ada ketertarikan terhadap Indonesia," ujar Mills dalam acara seminar membangun hubungan kerja sama antara Indonesia dan Afrika di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (25/1).

Hal ini juga diamini Direktur Afrika Kementerian Luar Negeri Indonesia, Lasro Simbolon. Menurutnya, kebanyakan masyarakat Afrika masih melihat Indonesia dengan kacamata lama.


Ia lantas bercerita bahwa ketika bertemu dengan masyarakat Afrika, kebanyakan hanya mengetahui Indonesia karena Konferensi Asia Afrika dan penggagasnya, Soekarno, dan selentingan soal pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, mereka hanya mengingat bencana, terutama karena banyaknya aktivitas gunung berapi yang kerap menimbulkan gempa.

"Saya bilang, gunung berapi buat kita itu, kita punya local wisdom, itu menjadi sumber berkah, kesuburan, water springs, Tangkuban Perahu menjadi objek wisata yang luar biasa. Seolah-olah di semua Indonesia terjadi gempa. Kita harus memberikan gambaran menyeluruh tentang potensi Indonesia," kata Lasro.

Situasi tersebut, kata Lasro, memaksa para diplomat Indonesia untuk menempatkan perubahan citra Indonesia sebagai salah satu tugas prioritas.

Senada dengan Lasro, Mills juga mengatakan bahwa diplomat Indonesia seharusnya lebih berperan aktif.

"Jangan berhenti di retoris. Turun ke lapangan, institusi terkecil, agar kalian dapat mengetahui situasi sebenarnya, apa tantangan sebenarnya, dan bagaimana mengatasinya," katanya.
Mills mengatakan bahwa hal ini harus segera dilakukan. Pasalnya, negara-negara besar, seperti China dan Amerika Serikat, mulai membidik Afrika. Para ahli ekonomi negara besar melihat potensi besar di Afrika.

"Ketika negara-negara lain mengalami penurunan ekonomi pada 2010-2014, Nigeria dan Afrika Selatan justru mengalami pertumbuhan ekonomi hingga 10 persen per tahun. Ini bukti bahwa mereka bisa bangkit dari keterpurukan," lanjutnya.

Untuk dapat membangun bisnis stabil di Afrika, kata Mills, para pengusaha harus berani ambil risiko demi mencapai kesuksesan. Ia mengambil contoh salah satu produsen mie instan dari Indonesia, Indofood.

"Indomie memiliki pasar sangat besar di sana. Mereka memakan Indomie seperti makanan pokok," kata Mills.

Harga merupakan salah satu pertimbangan penting bagi masyarakat Afrika ketika memilih mi instan.

Menurut Mills, produsen mi instan sangat jeli melihat pasar di Afrika. Menurut berbagai penelitian, kata Mills, penduduk Afrika masih menghabiskan 70 persen pendapatannya untuk membeli makanan.

"Harga makanan di sana sangat mahal karena mereka masih mengimpor dari luar sedangkan akses ke Afrika sendiri masih kurang," kata Mills.
Melihat situasi tersebut, Indofood membangun tiga pabrik di negara Afrika, yaitu Nigeria, Maroko, dan Kenya. Dengan demikian, biaya produksi dan distribusi tak sebesar jika mengekspor dari Indonesia.

Namun menurut Lasro, masih banyak produsen Indonesia yang memandang Afrika bukan sebagai pasar potensial. Hal inilah yang membuat hubungan dagang Indonesia dan Afrika tak berkembang pesat.

Hingga kini, komoditas terbesar Indonesia yang diekspor ke Afrika hanya minyak kelapa sawit mentah atau CPO beserta turunannya, tekstil, elektronik, dan makanan. Sementara itu, Indonesia mengimpor kapas untuk tekstil, tembakau, dan kulit dari Afrika.

Menurut Lasro, posisi pertama mitra strategis Indonesia ditempati oleh Nigeria dengan nilai perdagangan US$4 miliar disusul Afrika Selatan pada angka US$2 miliar pada 2015.

"Seharusnya masih dapat dikembangkan lebih besar," tambah Lasro. (stu)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK