Indonesia Tawarkan Nigeria Kerja Sama Kontra-Terorisme

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Selasa, 21/04/2015 19:12 WIB
Indonesia tawarkan kerja sama kontra-terorisme pada Nigeria yang diteror oleh militan Boko Haram. Nigeria saat ini diteror oleh serangan terorisme, terutama dari kelompok militan Boko Haram. (Antara/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terorisme adalah ancaman besar untuk dunia, tak terkecuali bagi Indonesia dan Nigeria. Terkait hal itu, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Lestari Priansari Marsudi, memberikan rancangan kerja sama kontra-terorisme kepada Menteri Luar Negeri Nigeria, Aminu Bashir Wali, dalam pertemuan bilateral di sela Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika di Jakarta Convention Center, Selasa (21/4).

"Kami juga membahas kelanjutan kerja sama kontra-terorisme karena kami sudah menyiapkan kerja sama dalam melawan terorisme. Kami menanti tanggapan dari Nigeria mengenai draf dari Indonesia dalam penanggulangan terorisme," ujar Retno sesaat setelah pertemuan berlangsung.

Usulan tersebut ditanggapi baik oleh Nigeria. "Kami mendiskusikan cara agar kami dapat menarik situasi tersebut dalam ranah pembangunan kapasitas, pelatihan, edukasi, dan kontra-terorisme," tutur Wali.


Nigeria saat ini diteror oleh serangan terorisme, terutama dari kelompok militan Boko Haram. Tak pelak, kegagalan melindungi warga dari serangan Boko Haram adalah salah satu alasan mantan Presiden Nigeria, Goodluck Jonathan, kalah melawan Muhammadu Buhari dalam pemilihan umum presiden pada 28 Maret lalu.

Boko Haram setelah membunuh ribuan nyawa dan menculik ratusan perempuan di Nigeria. Buhari sendiri telah bersumpah akan melakukan berbagai cara untuk menyelamatkan 200 gadis yang diculik oleh Boko Haram dari Desa Chibook.

Selain membahas masalah terorisme, Indonesia dan Nigeria juga berkomitmen untuk bekerja sama memberantas peredaran narkoba.

Bahasan yang tak kalah penting adalah kerja sama perdagangan. Menurut Retno, perdagangan antara kedua negara meningkat sekitar 33 persen dalam satu tahun hingga mencapai US$4 miliar. Namun, angka tersebut masih bisa ditingkatkan mengingat masih ada beberapa sektor yang bisa dikembangkan. (stu)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK