"Masalah keamanan akibat terorisme tentu menjadi masalah kedua kawasan dan ada keterkaitannya. Ke depannya, tentu kami akan membuat roadmap kerja sama lebih lanjut mengenai masalah terorisme dan mencegah ideologi ekstrem dan radikalisasi di belakangnya," ujar Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, Francisco Fontan Pardo, dalam acara peresmian kantor perwakilan di Jakarta.
Menanggapi pernyataan Pardo, Direktur Mitra Wicara dan Antar Kawasan Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Indonesia, Derry Aman, lantas menjabarkan bahwa selama ini, kedua institusi kawasan ini sebenarnya sudah lama bekerja sama untuk menangani masalah terorisme.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terorisme dan kekerasan di kedua kawasan berdampak pada banyak hal, salah satunya membeludaknya arus imigran. Eropa dibanjiri imigran dari Suriah sejak konflik di Timur Tengah memanas. Puncaknya terjadi tahun lalu, ketika jutaan imigran yang mayoritas berasal dari Timur Tengah, Afghanistan dan Afrika tiba di Eropa, meminta suaka.
Sementara itu, pengungsi Rohingya yang menghadapi tekanan di Myanmar juga membanjiri kawasan ASEAN. Para imigran yang mencoba mencapai Australia terdampar di Indonesia dan beberapa negara ASEAN lain.
Pembukaan kantor perwakilan resmi Uni Eropa untuk ASEAN, diharapkan akan memberi dampak positif bagi masalah imigran di kedua benua.
"Kami tentu dapat berbagi informasi dan saling belajar mengenai penanganan imigran. Kami juga sudah pernah mengadakan pertemuan untuk menelisik akar masalah dari kasus imigran ini. Tentu kami dapat saling belajar, apalagi Eropa sedang menangani banjir pengungsi Suriah," tutur Derry.
Selain untuk membahas penanganan berbagai masalah, perwakilan Uni Eropa di ASEAN juga akan menjadi wadah pembicaraan penguatan kerja sama kedua kawasan, mulai dari ekonomi hingga sosial.
Uni Eropa sendiri merupakan pendonor dana terbesar bagi misi ASEAN. Pada periode 2007-2013, Uni Eropa mengucurkan dana €100 juta, meningkat hingga €170 juta untuk jenjang waktu 2014-2020. (stu)