Menurut bocoran laporan pemerintah yang dilansir media Perancis, Le Figaro, di kota-kota besar tersebut, lebih dari 200 orang berubah menjadi Islam radikal pada 2015.
Le Figaro juga memberitakan bahwa sekitar 70 persen terduga radikal tersebut berjenis kelamin laki-laki. Peningkatan signifikan juga terjadi dalam jumlah perempuan dan remaja penganut Islam radikal. Sementara itu, 80 persen kasus yang melibatkan mereka dikategorikan serius.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa aparat Perancis berhasil mencegah 275 terduga penganut paham radikal keluar dari Perancis pada 2015. Sementara itu, 78 pembawa paham radikal juga ditolak masuk ke negara itu.
Pemerintah Perancis memusatkan perhatian terhadap masalah radikalisasi setelah terjadi insiden serangan di kantor majalah Charlie Hebdo dan swalayan pada Januari tahun lalu.
Presiden Perancis Francois Hollande menyatakan negara dalam situasi gawat darurat dan pada Rabu (3/2), kabinet Perancis mengajukan permohonan memperpanjang situasi gawat darurat hingga tiga bulan mendatang.
Bulan lalu, Perancis mengumumkan rencana tambahan dana 425 juta euro atau setara Rp6,4 triliun dan 2.800 pekerja ekstra untuk memantau 3.000 individu yang berpotensi bahaya.
"Terorisme sudah menyerang tanah ini dengan cara yang tak pernah dilakukan sebelumnya dan ancaman terorisme masih tinggi. Masyarakat Perancis patut mengetahui kenyataan ini. Kami harus beraksi cepat. Ini merupakan tanggung jawab semua orang, tapi paling penting adalah tanggung jawab pemerintah," kata Perdana Menteri Perancis, Manuel Valls. (stu)