Turki Minta Koalisi Kirim Pasukan Darat ke Suriah
Hanna Azarya Samosir | CNN Indonesia
Selasa, 16 Feb 2016 19:23 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Turki meminta rekan negara koalisinya, termasuk Amerika Serikat, untuk ambil bagian dalam operasi darat gabungan di Suriah guna mengakhiri perang sipil di negara tersebut.
"Turki tidak akan menjalankan operasi darat sendiri. Kami mengatakan kepada rekan-rekan koalisi bahwa harus ada operasi darat. Kami mendiskusikan ini dengan sekutu kami," ujar seorang pejabat anonim seperti dikutip Reuters, Selasa (16/2).
Menurut pejabat tersebut, perang Suriah tak dapat dihentikan tanpa bantuan perlawanan koalisi di darat.
"Kami menginginkan operasi darat. Jika ada konsensus, Turki akan ambil bagian. Tanpa operasi darat, mustahil menghentikan perang ini," ucap sumber tersebut.
Selama ini, Turki turut serta dalam koalisi serangan udara pimpinan AS yang membombardir ISIS dari udara sejak 2014.
Keadaan kian kacau ketika Rusia juga memutuskan untuk melakukan serangan udara menggempur ISIS demi membela rezim Presiden Suriah, Bashar al-Assad September tahun lalu.
Ankara semakin terdesak karena Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang terdiri dari pejuang Kurdi dan Arab mulai merebut daerah-daerah perbatasan dengan Turki. Ankara memang sensitif jika terkait masalah SDF.
Ankara menganggap bahwa SDF memiliki kaitan erat dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), kelompok pemberontak terlarang yang berpuluh tahun memberontak di Turki.
Selama tiga hari, Turki terus menembaki posisi SDF dan mengingatkan bahwa mereka tak akan membiarkan Azaz direbut. Namun hingga kini, pasukan Turki kewalahan menangkal serangan udara Rusia.
Pasukan Kurdi Suriah sendiri dilarang untuk memihak antara pemerintah atau oposisi dalam perang ini. Mereka lebih berkonsentrasi membangun daerah semi-otonomi di daerah utara dan timur laut Suriah yang mayoritas penduduknya merupakan orang Kurdi.
Terakhir kali, mereka berupaya menyatukan Kota Afrin yang terletak di Aleppo dengan daerah Kurdi lainnya di timur Suriah.
Sementara itu, Turki dan Rusia terus saling tuding. Pada Senin (15/2), Turki menuduh Rusia melakukan kejahatan perang karena meluncurkan rudal yang menghantam sejumlah fasilitas kesehatan dan sekolah di Suriah utara, menewaskan hampir 50 orang. (stu)
"Turki tidak akan menjalankan operasi darat sendiri. Kami mengatakan kepada rekan-rekan koalisi bahwa harus ada operasi darat. Kami mendiskusikan ini dengan sekutu kami," ujar seorang pejabat anonim seperti dikutip Reuters, Selasa (16/2).
Menurut pejabat tersebut, perang Suriah tak dapat dihentikan tanpa bantuan perlawanan koalisi di darat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keadaan kian kacau ketika Rusia juga memutuskan untuk melakukan serangan udara menggempur ISIS demi membela rezim Presiden Suriah, Bashar al-Assad September tahun lalu.
Ankara semakin terdesak karena Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang terdiri dari pejuang Kurdi dan Arab mulai merebut daerah-daerah perbatasan dengan Turki. Ankara memang sensitif jika terkait masalah SDF.
Ankara menganggap bahwa SDF memiliki kaitan erat dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), kelompok pemberontak terlarang yang berpuluh tahun memberontak di Turki.
Pasukan Kurdi Suriah sendiri dilarang untuk memihak antara pemerintah atau oposisi dalam perang ini. Mereka lebih berkonsentrasi membangun daerah semi-otonomi di daerah utara dan timur laut Suriah yang mayoritas penduduknya merupakan orang Kurdi.
Terakhir kali, mereka berupaya menyatukan Kota Afrin yang terletak di Aleppo dengan daerah Kurdi lainnya di timur Suriah.
Sementara itu, Turki dan Rusia terus saling tuding. Pada Senin (15/2), Turki menuduh Rusia melakukan kejahatan perang karena meluncurkan rudal yang menghantam sejumlah fasilitas kesehatan dan sekolah di Suriah utara, menewaskan hampir 50 orang. (stu)