AS Mengaku Bisa Bobol iPhone Teroris Tanpa Bantuan Apple

Denny Armandhanu/Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 22/03/2016 10:46 WIB
AS mengaku telah memiliki Ilustrasi (Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jaksa penuntut Amerika Serikat mengaku mereka kini bisa membobol ponsel iPhone pelaku terorisme di San Bernardino tanpa bantuan Apple. Setelah mendapat penolakan dari Apple untuk membuka ponsel itu, AS kini mendapat bantuan dari "pihak ketiga" untuk melakukannya.

Pengumuman ini disampaikan oleh Kementerian Kehakiman AS, Senin (21/3), jelang pengadilan dengar dalam kasus penolakan Apple atas permintaan pemerintah untuk membuka kata kunci dalam ponsel milik Rizwan Farook, pelaku penembakan di San Bernardino Desember tahun lalu.
Farook dan istrinya, Tashfeen Malik, yang merupakan simpatisan ISIS, tewas dalam baku tembak dengan polisi. Penyidik mengaku kesulitan melihat isi ponsel iPhone Farook karena dilindungi kata kunci.

Apple menolak permintaan pemerintah untuk membuat piranti lunak yang bisa membobol ponsel tersebut.


Penyidik mengatakan telah mendapat bantuan dari pihak ketiga untuk membuka ponsel itu. Pemerintah meminta pengadilan menunda sidang dengar dalam kasus Apple yang rencananya akan digelar pada Selasa waktu setempat.

Penyidik mengaku optimistis pihak ketiga yang tidak disebut namanya ini bisa membuka ponsel itu. "Itulah mengapa kami meminta pengadilan memberi waktu untuk mencoba opsi ini," kata juru bicara Kementerian Kehakiman AS, Melanie R. Newman.

"Jika solusi ini berhasil, kami bisa menelusuri isi ponsel dan melanjutkan penyelidikan serangan teroris yang menewaskan 14 orang dan melukai 22 orang itu," lanjut Newman.

Langkah pemerintah di saat terakhir pengadilan ini memicu komentar negatif dari para ahli teknologi. Mereka mengatakan, pemerintah takut kalah dalam pengadilan melawan Apple dan menjadi preseden di masa mendatang.
Selain itu, pakar teknologi sangsi pemerintah tidak bisa membuka ponsel tersebut. Pemerintah, menurut mereka, memiliki banyak sumber daya yang mampu melakukannya.

"Dari sisi teknis, salah satu klaim pemerintah yang janggal adalah mereka butuh bantuan Apple untuk membuka ponsel itu. Banyak yang sangsi, terutama karena pemerintah punya banyak sumber daya," kata profesor dan ahli keamanan komputer di University of Pennsylvania, Matt Blaze.

Pihak Apple mengaku belum mengetahui metode apa yang akan digunakan oleh pemerintah. (den)