Pengumuman ini disampaikan oleh Kementerian Kehakiman AS, Senin (21/3), jelang pengadilan dengar dalam kasus penolakan Apple atas permintaan pemerintah untuk membuka kata kunci dalam ponsel milik Rizwan Farook, pelaku penembakan di San Bernardino Desember tahun lalu.
Apple menolak permintaan pemerintah untuk membuat piranti lunak yang bisa membobol ponsel tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyidik mengaku optimistis pihak ketiga yang tidak disebut namanya ini bisa membuka ponsel itu. "Itulah mengapa kami meminta pengadilan memberi waktu untuk mencoba opsi ini," kata juru bicara Kementerian Kehakiman AS, Melanie R. Newman.
"Jika solusi ini berhasil, kami bisa menelusuri isi ponsel dan melanjutkan penyelidikan serangan teroris yang menewaskan 14 orang dan melukai 22 orang itu," lanjut Newman.
Langkah pemerintah di saat terakhir pengadilan ini memicu komentar negatif dari para ahli teknologi. Mereka mengatakan, pemerintah takut kalah dalam pengadilan melawan Apple dan menjadi preseden di masa mendatang.
Lihat juga:Penjahat Pilih iPhone karena Enkripsi Kuat |
"Dari sisi teknis, salah satu klaim pemerintah yang janggal adalah mereka butuh bantuan Apple untuk membuka ponsel itu. Banyak yang sangsi, terutama karena pemerintah punya banyak sumber daya," kata profesor dan ahli keamanan komputer di University of Pennsylvania, Matt Blaze.
Pihak Apple mengaku belum mengetahui metode apa yang akan digunakan oleh pemerintah. (den)