Pada Kamis (7/4), sekitar 2.000 demonstran kembali turun ke jalan di depan gedung parlemen di Reykjavik, meminta pemerintah Islandia mengundurkan diri terkait bocoran Panama Papers.
Islandia dilanda krisis politik secara tiba-tiba setelah bocoran dokumen dari firma hukum Mossack Fonseca dipublikasikan media. Nama istri Gunnlaugsson disebut Panama Papers memiliki perusahaan di yurisdiksi bebeas pajak (offshore) bernama Wintris Inc. Perusahaan ini memiliki klaim senilai US$4,1 juta dari sejumlah bank Islandia yang gagal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saga Stephensen, 33, yang ikut serta dalam protes Kamis kemarin, mengatakan bahwa pejabat pemerintahan yang lain harus ikut mundur.
“Mereka bersikap seolah tidak ada yang terjadi dan tidak bertanggung jawab dan tidak meminta maaf. Saya muak dengan arogansi mereka,” ujar Stephensen.
“Menunjuk Sigurdur Ingi sebagai perdana menteri bukanlah solusi,” kata Johann Bjornsson, seorang guru berusia 50 tahun. Ia juga menyerukan pemilu sesegera mungkin. (stu)