Kecaman tersebut dipublikasikan di situs Kementerian Pertahanan China pada Kamis (15/4), menyusul pengumuman dari AS untuk meningkatkan kehadiran militernya di Filipina. AS juga mengumumkan akan memulai patroli bersama Filipina di perairan yang disengketakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentara China akan memantau hal ini dengan ketat, dan tegas akan menjaga kedaulatan teritorial China serta hak dan kepentingan maritimnya," bunyi pernyataan Kemenhan China.
China mengklaim sebagian besar wilayah di Laut China Selatan, yang merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk dengan perdagangan senilai lebih dari US$5 triliun melewati kawasan ini setiap tahun. Perairan ini juga diduga kaya energi.
Namun, Filipina, Brunei, Malaysia, Taiwan dan Vietnam juga mengklaim sejumlah wilayah di perairan ini.
Ketegangan antara China dan sejumlah negara itu meningkat setelah Beijing memulai reklamasi di sejumlah pulau yang disengketakan dan terumbu karang di Laut China Selatan.
Amerika Serikat menuduh China meningkatkan ketegangan di Laut China Selatan dengan menempatkan rudal darat-ke-udara di sebuah pulau yang disengketakan. Hingga kini pemerintah China bungkam soal penempatan rudal itu.
Sementara China berulang kali menuduh AS melakukan militerisasi di kawasan Laut China Selatan melalui kebijakan patroli kebebasan navigasi di kawasan dan aliansi militer dengan Filipina.
Terkait hal ini, Menhan AS, Ash Carter menyatakan pada Kamis bahwa peningkatan kehadiran militer AS di kawasan ini tidak dimaksudkan untuk memprovokasi konflik dengan China. (ama/stu)