Australia Akan Gelar Pemilu Parlemen Pada Awal Juli

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Minggu, 08/05/2016 14:41 WIB
Australia Akan Gelar Pemilu Parlemen Pada Awal Juli Koalisi pemerintahan Partai Liberal/Nasional yakin bahwa Malcolm Turnbull mampu menghidupkan kembali popularitas koalisi yang anjlok di bawah kepemimpinan mantan pemimpin Tony Abbott. (Reuters/David Gray)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull, mengumumkan bahwa pemilihan umum parlemen akan diselenggarakan pada 2 Juli mendatang.

Dilansir dari CNN, Trunbull menyatakan bahwa dia mengunjungi Gubernur Jenderal Peter Cosgrove untuk meminta pembubaran parlemen dalam persiapan pemilihan umum.

Turnbull mengumumkan bahwa kedua majelis parlemen akan dibubarkan dan setiap politisi, termasuk senator, harus mencalonkan diri dalam pemilihan ulang.


"Gubernur Jenderal telah menerima saran saya untuk membubarkan kedua majelis parlemen yang efektif besok pagi, dan menyerukan pemilihan umum untuk kedua majelis, pembubaran ganda, pada 2 Juli," kata Turnbull dalam konferensi pers pada Minggu (8/5).

Jajak pendapat yang diterbitkan pekan ini menunjukkan Turnbull memiliki peluang 50-50 untuk bertahan dalam pemilihan umum parlemen yang akan datang. Bahkan, saat ia mengumumkan pemilihan umum tersebut, Turnbull tengah berjuang untuk mendulang dukungan rakyat kepadanya dan partainya.

Sejak 2010, jabatan perdana menteri Australia sudah berpindah ke lima tokoh berbeda, termasuk Kevin Rudd yang mewarisi posisi itu dari Julia Gillard.

Koalisi pemerintahan Partai Liberal/Nasional yakin bahwa Turnbull mampu menghidupkan kembali popularitas koalisi yang anjlok di bawah kepemimpinan mantan pemimpin Tony Abbott.

Dihadapkan dengan jajak pendapat yang mengkhawatirkan, Turnbull mulai menguraikan rencana koalisinya untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan.

"Pada pemilihan ini, Australia akan memiliki pilihan yang sangat jelas - untuk menjaga stabilitas dan komitmen untuk rencana ekonomi nasional kita, untuk pertumbuhan dan pekerjaan- atau kembali ke [kekuasaan Partai] Buruh, dengan pajak tinggi, konsumsi tinggi, utang dan defisit," tuturnya.

Turnbull, yang merupakan mantan bankir, tengah berebut dukungan dengan rivalnya dari Partai Buruh, Bill Shorten, yang dahulu sempat menjabat sebagai kepala dari salah satu serikat pekerja paling kuat di Australia. (ama/ama)