Senator Rusia Frants Klintsevich kepada reporter pada Minggu (15/5) mengatakan Eurovision telah mengedepankan politik ketimbang seni. Kemenangan Jamala, penyanyi asal Ukraina, menyiratkan kekhawatiran akan masa depan kontes tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Klintsevich, wakil ketua Komite Dewan Federal untuk Pertahanan dan Keamanan Rusia, menyarankan Rusia tidak ikut dalam Eurovision tahun depan yang rencananya diadakan di Kiev, Ukraina.
Menurut dia, Eurovision tahun depan akan dipolitisir secara maksimal oleh panitia penyelenggara di Ukraina. "Saya tidak menampik ajang itu bisa sangat diatur di Maidan," kata Klintsevich, merujuk pada alun-alun di Kiev tempat aksi protes anti pemerintah berlangsung, dikutip CNN.
Dalam Eurovision tahun ini, penyanyi Rusia, Sergey Lazarev, menempati posisi ketiga setelah Jamala dan penyanyi Australia, Dami Im. Padahal Lazarev merupakan favorit pemenang sebelum kompetisi itu digelar.
Pada peraturannya, penyanyi dalam Eurovision dilarang memasukkan unsur politik dalam karya mereka. Rusia menuding lagu Jamala telah melanggar peraturan tersebut.
Jamala yang memiliki nama lengkap Susana Jamaladynova mengatakan pada media Ukraine Today pada Februari lalu bahwa lagu "1944" dikarangnya berdasarkan cerita yang dikisahkan oleh nenek buyutnya yang mengalami deportasi warga Crimea di Moskow atas perintah Josef Stalin.
"Saya lebih memilih agar peristiwa buruk ini tidak terjadi kepada nenek buyut saya, dan saya memilih agar lagu ini tidak pernah ada," kata Jamala kepada reporter usai kompetisi Eurovision. (den)