Pengiriman bantuan makanan oleh konvoi PBB pada Jumat (10/6) itu merupakan kali pertama ke Daraya sejak 2012 lalu. Dalam kesempatan itu, PBB dan lembaga Red Crescent Syrian Arab yang menyalurkan bantuan makanan kepada 2.400 warga Daraya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu terjadi hanya beberapa jam setelah konvoi PBB tiba," katanya kepada wartawan.
"Serangan tersebut jelas tidak dapat diterima dalam keadaan apapun, tetapi dalam kasus ini mereka juga menghambat pengiriman dan distribusi bantuan yang sangat dibutuhkan," ujarnya.
Toner menyatakan bahwa keputusan Assad untuk mengizinkan konvoi PBB memasuki ke kota itu merupakan tindakan yang "positif, tetapi pengiriman hanya bersifat parsial dan kami akan berupaya menyalurkan sisa persediaan bantuan sesegera mungkin."
Lebih lanjut, Toner menilai bahwa seharusnya hanya PBB yang dapat memutuskan lokasi dan waktu untuk mendistribusikan bantuan dalam wilayah Suriah. Menurutnya, penduduk tidak boleh dibiarkan kelaparan oleh rezim Assad.
Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Marc Ayrault, juga menyuarakan kemarahan. Dia menuduh Damaskus "luar biasa bermuka dua", dan menyatakan bahwa rezim akhirnya diberikan akses untuk bantuan setelah tekanan internasional yang berat "namun kemudian pengeboman dimulai kembali." (ama)