Erdogan dan banyak orang Turki marah menanggapi kekhawatiran UE atas tindakan keras Turki yang menangkap ribuan orang yang dituding terlibat kudeta.
"Sayangnya Uni Eropa membuat beberapa kesalahan yang serius. Mereka gagal dalam tes setelah upaya kudeta….Masalah mereka adalah sentimen anti-Turki dan anti-Erdogan," kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu seperti dikutip kantor berita Anadolu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemecatan terus berlangsung hingga Rabu kemarin. Anadolu melaporkan lebih jauh 648 hakim dan jaksa diskors dan diselidiki. Total jaksa yang mengalami nasib serupa atau diberhentikan menjadi 3.489 orang. Sementara itu Badan Riset Ilmiah dan Teknologi Turki (TUBITAK) telah memberhentikan 560 staf mereka.
Erdogan berulang kali meminta AS mengekstradisi Fethullah Gulen yang dianggap sebagai dalang upaya kudeta. (Reuters/Huseyin Aldemir) |
Beberapa negara sekutu Turki di Eropa, sementara itu khawatir bahwa Erdogan yang kerap diasosiasikan sebagai pemimpin otoriter, menggunakan kudeta sebagai alasan untuk memperketat cengekeramannya.
Pejabat Turki menolak tudingan itu, dan menegaskan bahwa pembersihan yang mereka lakukan sesuai dengan besarnya ancaman atas pemberontakan yang gagal tersebut.
"Saya tertarik pada diskusi fundamental," kata Kanselir Austria, Christian Kern, pada Rabu dalam sebuah wawancara ORF, yang menyatakan bahwa UE harus mempertimbangkan kembali perihal keanggotaan Turki.
"Diskusi mendasar itu adalah: Dapatkah kita menerima seseorang dalam Uni Eropa yang tidak mematuhi standar demokratis, yang memiliki kesulitan dengan hak asasi manusia, dan yang mengabaikan kebutuhan kemanusiaan dan kebutuhan mengenai aturan hukum?"
Turki memulai pembicaraan keanggotaan Uni Eropa pada 2005, namun tak membuat kemajuan berarti hingga tercapainya kesepakatan terkait arus pengungsi pada awal tahun ini. Turki akan menahan gelombang pengungsi ke Eropa, dan UE akan mempercepat keanggotaan Turki. (stu)
Erdogan berulang kali meminta AS mengekstradisi Fethullah Gulen yang dianggap sebagai dalang upaya kudeta. (Reuters/Huseyin Aldemir)