Kebijakan ini sebenarnya sudah diimplementasikan jauh sebelum gelombang pengungsi membanjiri Eropa, tepatnya pada 2013.
Berdasarkan kebijakan tersebut, pemerintah menawarkan dana sebesar 30 ribu krona atau setara Rp47,2 juta bagi individu yang mau kembali ke negaranya sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, pemerintah Swedia juga memberlakukan sejumlah kebijakan lain yang mendorong para pencari suaka untuk membatalkan aplikasi pengajuan suaka mereka.
Hasilnya, jumlah permintaan pada Januari hingga Agustus 2016 pun berkurang hampir 50 persen dari tahun 2015.
"Kami menerima sinyal bahwa pencari suaka lelah dengan proses panjang dan melihat segala sesuatu tak seperti yang mereka bayangkan di Swedia," kata seorang ahli dari Badan Migrasi Swedia, Kristina Ranner seperti dikutip The Independent.
Sebelumnya, Swedia merupakan salah satu tujuan paling populer bagi pencari suaka dengan jumlah aplikasi melonjak dua kali lipat pada periode 2014-2015 hingga lebih dari 160 ribu.
Hasil jajak pendapat yang dirilis pada Februari lalu menunjukkan bahwa masalah imigrasi menjadi perhatian utama 40 persen warga Swedia. Sebagian besar dari mereka khawatir dengan keterbatasan sekolah, pengangguran, hingga kesejahteraan.
"Kebanyakan warga Swedia tidak rasis. Namun, ketika melihat ada perumahan khusus pencari suaka sementara mereka tak dapat bekerja dan tak dapat menjadi bagian dari masyarakat, timbul ketegangan. Ini adalah situasi berbahaya; banyak orang-orang yang tak punya tempat tinggal, tinggal di luar masyarakat," ujar Menteri Pekerjaan dan Integrasi Swedia, Ylva Johansson. (stu)