Trump Akhirnya Meyakini Obama Lahir di AS

Hanna Azarya Samosir , CNN Indonesia | Sabtu, 17/09/2016 12:19 WIB
Trump Akhirnya Meyakini Obama Lahir di AS Trump sempat menuding bahwa jabatan Obama sebagai Presiden AS tidak sah. (Reuters/Brian Snyder)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah selama ini meragukan asal-usul Barack Obama, kini Donald Trump akhirnya mengaku yakin bahwa sang presiden tersebut lahir di Amerika Serikat.

Menjadi presiden AS pertama berdarah Afrika-Amerika, kewarganegaraan Obama sempat dipertanyakan, termasuk oleh Trump. Ia pun sempat menuding bahwa jabatan Obama sebagai Presiden AS tidak sah.

Namun menurut penasihat komunikasi Trump, Jason Miller, calon presiden AS dari Partai Republik itu akhirnya percaya bahwa Obama lahir di tanah Amerika karena satu kejadian pada 2011.

"Pada 2011, Trump akhirnya dapat menyimpulkannya karena berhasil mendesak Obama untuk merilis akta lahirnya. Berhasil melihat akta lahir Presiden Obama ketika orang lain tidak bisa, Trump meyakini bahwa Presiden Obama lahir di Amerika Serikat," ujar Miller seperti dikutip Reuters, Jumat (16/9).

Pernyataan ini dirilis hanya berselang beberapa jam setelah Trump menolak untuk menjawab pertanyaan dari Washington Post yang menanyakan keyakinannya mengenai fakta bahwa Obama lahir di Hawaii.

"Saya akan menjawab pertanyaan itu di waktu yang tepat. Saya hanya belum mau menjawabnya," ucap Trump.

Dengan pernyataan itu, Trump langsung dikritik oleh rivalnya dalam pemilu presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.

"Dia masih belum mau mengakui Hawaii. Dia masih tidak mau mengatakan Amerika. Pria ini ingin menjadi presiden kita? Kapan dia akan menghentikan keanehan ini, kefanatikan ini? Dia mencoba mengatur ulang dirinya dan kampanyenya. Ini yang terbaik yang dapat dia lakukan. Itulah dia," kata Clinton.

Menjelang pemilu presiden pada 8 November mendatang, Trump kini sedang berusaha menggaet pemilih kulit hitam, kaum yang sangat mendukung Obama dalam pemilihan pada 2008 dan 2012.

Namun, banyak orang kulit hitam yang tidak suka dengan Trump karena selalu mempermasalahkan kewarganegaraan Obama.