Duterte ke Obama: Anda Bisa Pergi ke Neraka

Aditya Panji, CNN Indonesia | Selasa, 04/10/2016 22:33 WIB
Duterte ke Obama: Anda Bisa Pergi ke Neraka Presiden Republik Filipina Rodrigo Roa Duterte saat memberikan keterangan pers usai pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 9 September 2016. CNN Indonesia/Safir Makki
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengalamatkan kata “Anda bisa pergi ke negara” ke Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam pidatonya di Manila, Selasa (4/10), lantaran AS melontarkan kritik atas kampanye anti-narkoba di Filipina yang memakan banyak korban jiwa.

Duterte mengatakan AS seharusnya mendukung Filipina mengatasi masalah serius soal narkoba di negara itu, bukan malah sebaliknya mengkritik tingginya angka kematian 3.000 pengedar narkoba dalam waktu tiga bulan, baik itu di tangan aparat tanpa proses peradilan maupun persaingan antar-geng. Kritik ini juga disampaikan oleh PBB dan Uni Eropa serta para pegiat hak asasi manusia.

“Alih-alih membantu kami, pihak pertama yang mengkritik adalah Departemen Luar Negeri (AS-red). Jadi, Anda bisa pergi ke neraka, Obama, Anda bisa pergi ke neraka,” katanya, seperti dikutip dari Reuters.


Ia sejak lama geram dengan masalah narkoba yang sudah memiliki pengaruh dan bahaya laten bagi negaranya. Sejak berkampanye untuk maju sebagai presiden, Duterte telah mengizinkan tembak mati bandar dan pengguna narkoba.

Dia secara emosional juga berkata AS tidak pernah menjadi seorang teman bagi Filipina sejak pemilu di negara itu pada bulan Mei lalu. Duterte sendiri dilantik menjadi presiden pada Juni 2016.

“Ini yang terjadi sekarang. Saya akan mengkonfigurasi ulang kebijakan luar negeri saya. Akhirnya, saya mungkin ada di waktu akan putus dengan Amerika.”

Sejauh ini pemerintah Filipina tidak menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan "putus" dalam penyataan Duterte.


Senjata dari Rusia dan China

Duterte juga menyampaikan kekesalannya kepada Negeri Paman Sam yang menolak untuk menjual senjata ke Filipina, dan itu disebut bukan masalah bagi Duterte karena ada Rusia dan China yang menyediakan senjata.

AS disebutnya tidak mau menjual rudal dan senjata lain ke Filipina. Di sisi lain, Rusia dan China berkata kepadanya akan memberikan dengan mudah.

“Walau mungkin terdengar seperti omong kosong untuk Anda, itu adalah tugas suci saya untuk menjaga integritas republik ini,” kata Duterte seperti dikutip dari Reuters.

“Jika Anda tidak ingin menjual senjata, saya akan pergi ke Rusia. Aku mengirim jenderal ke Rusia dan Rusia mengatakan ‘jangan khawatir kami memiliki semua yang Anda butuhkan, kami akan memberikannya kepada Anda’.

“Dan untuk China, mereka mengatakan ‘cukup datang dan menandatangani lalu semuanya akan disampaikan’.”


Hari Minggu lalu Duterte menyampaikan telah mendapat dukungan dari Rusia dan China setelah ia mengeluh atas apa yang dilakukan Amerika Serikat. Dia pun menegaskan akan meninjau perjanjian kerja sama pertahanan antara Filipina dengan Amerika Serikat.

Dalam kesepakatan yang ditandatangani pada 2014, Filipina memberi akses pasukan AS untuk dimungkinkan mendirikan fasilitas penyimpanan untuk keamanan maritim dan operasi tanggap bencana serta kemanusiaan.

Beberapa pejabat AS mengatakan Gedung Putih sejauh ini mengabaikan retorika Duterte. Tidak ada diskusi serius yang akan mengambil langkah menghentikan bantuan ke Filipina. (adt)