Teras gedung Trump Tower di jalan 5th Avenue milik Donald Trump, memang selalu ramai digunakan oleh warga Amerika Serikat untuk menyuarakan aspirasinya. Mereka yang datang adalah para pembenci atau pecinta Trump, masing-masing membawa argumen, gaya dan cara yang tidak biasa.
Selain Paul Rosen, 55, yang menjual pin gambar Trump yang diserupakan dengan tinja, pada Minggu (6/11), berdatangan orang-orang "unik nan eksentrik" yang menyuarakan penentangan terhadap calon presiden dari Partai Republik itu. Seorang di antaranya adalah wanita kulit hitam yang memajang foto korban-korban Trump di sebuah koran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang pria seakan bisu, berdiri memakai tudung kepala. Dia membawa kertas bertuliskan "Putin-Trump 'Jadikan Rusia USSR lagi',". Barangkali ini sindiran kepada Trump yang dianggap sangat dekat dengan rival AS, Rusia.
Selain pendukung Hillary Clinton, berdatangan juga para suporter Donald Trump, salah satunya adalah Douglas Burry, seorang veteran yang memakai kaos bertuliskan, "Katakan tidak pada Hillary". Menurut Burry, dia memilih Trump karena membenci Hillary Clinton.
"Yang penting dia [Donald Trump] bukan Hillary Clinton yang korup, yang melanggar sumpah setia pada Konstitusi dan menerima uang dari diktator saat menjabat menlu. Dia telah korupsi sejak 24 tahun yang lalu, tidak layak menjadi presiden!" kata Burry ketika dihampiri oleh CNN Indonesia.com.
Koboi setengah bugil
Lalu yang paling mengejutkan, muncul seorang pria berambut panjang berbadan kekar, hampir telanjang bulat jika saja tidak pakai celana dalam. Pria yang menyebut dirinya sendiri "Si Koboi Bugil" itu lalu memainkan gitar, menyanyikan lagu sumbang soal rencana Trump membuat AS lebih baik.
"Trump akan membuat Amerika hebat lagi," ujarnya, yang selanjutnya memamerkan otot-ototnya.
Seorang pria berambut panjang berbadan kekar, hampir telanjang bulat jika saja tidak pakai celana dalam terlihat menyanyikan lagu sumbang soal rencana Trump membuat AS lebih baik.(CNN Indonesia/Denny Armandhanu) |
Ada lagi yang datang memakai rambut palsu warna kuning dan jas berdasi merah, persis Donald Trump. Orang ini adalah seorang penghibur yang juga ikut memprotes Trump.
Pemandangan orang-orang nyentrik ini sontak saja menarik perhatian para pejalan kaki yang langsung berhenti di depan pintu gerbang Trump Tower. Mereka ingin berfoto dengan orang-orang itu, atau setidaknya menonton "atraksi lucu" itu dari jarak aman. Akibatnya laju pejalan kaki di depan Trump Tower tersendat dan beberapa kali harus diatur oleh polisi.
Sebagian yang datang juga terlibat debat sengit dengan para demonstran. Tidak jarang beberapa orang naik pitam dan hampir saja adu jotos jika tidak dilerai oleh aparat.
Seorang pria seakan bisu, berdiri memakai tudung kepala dan membawa kertas bertuliskan sindiran kepada Trump yang dianggap sangat dekat dengan rival AS, Rusia. (CNN Indonesia/Denny Armandhanu) |
Keramaian di depan gedung ini semakin menjadi karena pemilihan umum AS tinggal hitungan hari, yaitu pada 8 November mendatang. Donald Trump akan berhadapan dengan Clinton di pemilu, keduanya diprediksi sama-sama memiliki peluang untuk menjadi pemimpin negara tersebut.
Di teras Trump Tower tidak hanya ada orang yang pro dan kontra dengan Trump atau Hillary, ada juga yang menyuarakan persatuan AS. Bill Johnson sendirian berdiri menahan terpaan angin, membawa spanduk bertuliskan "Bekerja bersama, agar kita semua kuat berlari."
"Kita harus menghentikan kebencian dan kemarahan, lalu mulai bersama-sama bekerja," kata pria 68 tahun ini yang terlihat jelas berusaha menahan dingin. (ama)
Seorang pria berambut panjang berbadan kekar, hampir telanjang bulat jika saja tidak pakai celana dalam terlihat menyanyikan lagu sumbang soal rencana Trump membuat AS lebih baik.(CNN Indonesia/Denny Armandhanu)
Seorang pria seakan bisu, berdiri memakai tudung kepala dan membawa kertas bertuliskan sindiran kepada Trump yang dianggap sangat dekat dengan rival AS, Rusia. (CNN Indonesia/Denny Armandhanu)