Kemlu: Bagaimanapun Posisi AS, RI Tetap Dukung Palestina

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 10/11/2016 15:03 WIB
Kemlu menegaskan bahwa Indonesia akan terus mendukung upaya kemerdekaan Palestina, bagaimanapun sikap pemerintahan baru AS di bawah pimpinan Donald Trump. Kemlu menegaskan bahwa Indonesia akan terus mendukung upaya kemerdekaan Palestina, bagaimanapun sikap pemerintahan baru AS di bawah pimpinan Donald Trump. (Antarafoto/ho/Suwandy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa Indonesia akan terus mendukung upaya kemerdekaan Palestina, bagaimanapun sikap pemerintahan baru Amerika Serikat di bawah pimpinan Donald Trump yang baru saja memenangkan pemilihan umum pada Selasa (8/11) lalu.

"Terkait Palestina, apa pun posisi AS, tidak akan mempengaruhi posisi Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina, baik itu secara bilateral, multilateral, dan regional," tutur Arrmanatha dalam jumpa pers di Kemlu, Jakarta, Kamis (10/11).

Dalam beberapa pernyataannya saat masa kampanye, Trump kerap melontarkan gagasan untuk memperkuat hubungan AS dan Israel yang dikhawatirkan akan mengganggu perundingan two-state solution Israel-Palestina.


Arrmanatha menegaskan, terpilihnya Trump sebagai presiden AS terpilih ke-45 tak serta merta mengubah kebijakan luar negeri AS secara fundamental.

Menurutnya, komentar Trump selama ini tidak bisa langsung diartikan seluruhnya akan dituangkan sebagai kebijakan AS di bawah kepemimpinannya.

Arrmanatha menegaskan, Indonesia percaya AS akan tetap konsisten dengan kebijakan luar negerinya yang selama ini telah berjalan dan akan tetap mempertimbangkan permasalahan Israel-Palestina berdasarkan kesepakatan internasional.

"Sejak pemilu awal [saya] belum dengar kebijakan detail (dari Trump). Yang keluar hanya retorika kampanye sehingga Indonesia masih harus lihat dulu bagaimana kebijakan dan strategi AS ke depan, sebagai salah satu negara yang punya influence besar di geopolitik global. Pastinya ini tetap jadi pertimbangan AS," kata Arrmanatha.

Salah satu retorika yang dilontarkan Trump terkait konflik ini adalah janji untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel jika terpilih menjadi Presiden AS. Rencana ini yang melanggar kebijakan PBB mengenai konflik Palestina-Israel.

Menteri Pendidikan Israel Naftali Bennett, yang memimpin partai sayap kanan Jewish Home pun mengatakan, kemenangan Donald Trump sebagai presiden terpilih Amerika Serikat merupakan akhir dari gagasan kemerdekaan Palestina.

Menurut Bennett, kemenangan Trump menjadi kesempatan Israel untuk mencabut gagasan mengenai pembentukan negara Palestina di tengah negaranya yang dianggap dapat mengancam keamanan Israel.

"Ini adalah posisi presiden terpilih... Era negara Palestina sudah selesai,” ucap Bennett. (has/has)