Dubes Rusia Sebut Obama Rusak Hubungan Baik dengan Moskow

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 30/11/2016 16:00 WIB
Dubes Rusia Sebut Obama Rusak Hubungan Baik dengan Moskow Dubes Rusia untuk Indonesia, Mikhail Yurievich Galuzin merasa renggangnya hubungan AS-Rusia dipicu oleh kebijakan Barack Obama yang kerap rugikan Moskow. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusia meyakini hubungan antara Moskow dan Washington DC akan lebih menguntungkan di masa pemerintahan baru Amerika Serikat menyusul terpilihnya Donald Trump pada pemilu presiden AS pada 8 November lalu. 

Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Mikhail Yurievich Galuzin, Rabu (30/11), memprediksi hubungan dua negara besar ini akan jauh lebih dekat dan "konstruktif" di masa yang akan datang.

Selama ini, menurutnya, hubungan baik Rusia dan AS terhambat akibat ulah AS menerapkan beberapa kebijakan internasional yang dinilai merugikan Rusia.


"Sejauh ini intensi pendirian presiden AS terpilih [Trump] dalam kaitan hubungan AS-Rusia jauh lebih positif dibandingkan dengan pendirian AS selama ini yang dipegang oleh Barack Obama. Kebijakan Obama selama ini benar-benar telah merusak hubungan baik kedua negara," ungkap Galuzin di rumah dinasnya di Jakarta.

Salah satu kebijakan yang mengecewakan Rusia, kata Galuzin, adalah keputusan AS dan beberapa Negara Barat lainnya untuk menerapkan sanksi "ilegal" kepada Rusia terkait konflik di Suriah dan krisis Ukraina.

Galuzin berujar, sanksi internasional yang dilayangkan kepada Rusia sejak 2014 lalu terkait masalah di Ukraina telah menyebabkan jatuhnya mata uang Rusia, sehingga menyebabkan krisis finansial pada Negara Beruang merah tersebut.

Selain itu, keputusan AS untuk menangguhkan operasional Komisi Kepresidenan Bilateral AS-Rusia, tutur Galuzin, semakin menyudutkan hubungan antar kedua negara. Pasalnya, komisi bilateral merupakan satu-satunya platform penghubung seluruh proyek kerja sama antar kedua negara.

"Sekarang mereka [AS] juga menangguhkan komisi ini. Kebijakan Obama sangat destruktif dan kami berharap akan ada perubahan di masa pemerintahan AS yang baru," kata Galuzin.

Dalam masa kampanye pemilu, Trump sempat menyatakan bahwa dirinya memuji Presiden Rusia Vladimir Putin dan menganggap AS seharusnya dapat bekerja sama lebih dekat lagi dengan Rusia.

Tak lama setelah pemilu AS usai, Putin dan Trump juga telah berbincang soal penguatan "kerja sama yang konstruktif" termasuk dalam memerangi terorisme melalui sambungan telepon pada pertengahan November lalu.

Dalam perbincangan pada Senin (14/11), Trump dan Putin sepakat untuk "memberi saluran" bagi hubungan Amerika Serikat dan Rusia, serta "menggabungkan upaya untuk mengatasi terorisme dan ekstremisme internasional".

Galuzin memaparkan, dari percakapan keduanya dapat disimpulkan bahwa Rusia menyambut baik keinginan pemerintahan baru AS untuk bekerja sama lebih erat lagi dengan Rusia. Menurutnya, baik Putin dan Trump memiliki proyeksi dan pemahaman yang sama dalam menghadapi situasi global ke depannya.

"Kami selalu tekankan bahwa Rusia siap bekerja sama dengan pemerintahan baru AS. Walaupun begitu, kami tetap harus menunggu kebijakan Trump nanti saat dia telah resmi menjabat sebagai presiden AS," tutur Galuzin. (aal)