Rusia: Terlalu Dini Menyebut Dalang di Balik Pembunuhan Dubes

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Kamis, 22/12/2016 06:19 WIB
Rusia: Terlalu Dini Menyebut Dalang di Balik Pembunuhan Dubes Rusia menilai saat ini terlalu dini untuk mengungkapkan dalang di balik pembunuhan Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrei Karlov. (Reuters/Osman Orsal)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kremlin menyatakan bahwa saat ini terlalu dini untuk mengungkapkan siapa dalang di balik pembunuhan Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrei Karlov, di Ankara awal pekan ini. 

Karlov tewas di tangan seorang polisi anti huru-hara di ibu kota Ankara, Mevlut Mert Altintas. Namun, sejumlah penyidik Rusia kini masih meluncurkan investigasi bersama penyidik Turki untuk mengungkap siapa yang kemungkinan mengatur atau memerintahkan pembunuhan itu. 

Reuters melaporkan pada Selasa (20/12) bahwa Menteri Luar Negeri Turki sudah menyampaikan Menlu Amerika Serikat John Kerry bahwa Ankara dan Moskow meyakini bahwa Altintas merupakan pengikut tokoh agama Fethullah Gullen, yang dituding mendalangi kudeta militer pada Juli lalu.


Meski begitu, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut bahwa saat ini terlalu dini untuk menyimpulkan siapa yang kemungkinan memerintahkan pembunuhan tersebut.

"Kami harus menunggu hasil kelompok investigasi gabungan," kata Peskov. "Tidak perlu terburu-buru mengambil kesimpulan."

Tuduhan ini ditampik oleh Gulen, yang mengaku terkejut ketika mendengar serangan ini. Gulen pada Selasa (20/12) menyatakan bahwa pemerintah Turki melemparkan tuduhan ini kepadanya untuk menutupi kelemahan sistem keamanan negara itu.

Karlov tewas diterjang sekitar delapan tembakan yang diluncurkan Altintas dari belakang sang dubes, ketika ia sedang berpidato untuk membuka pameran foto di sebuah galeri seni di Ankara.

Setelah menumbangkan Karlov, Altintas berteriak, "Allahu Akbar!" dilanjutkan dengan, "Jangan lupakan Aleppo! Jangan lupakan Suriah! Semua yang ikut serta dalam tirani ini akan bertanggung jawab!"

Ucapan Altintas itu mengindikasikan bahwa serangan yang ia luncurkan terkait dengan bantuan militer Rusia kepada rezim Presiden Bashar Al-Assad untuk merebut Aleppo dari kelompok pemberontak.

Militer Rusia dan pasukan pro-rezim dianggap turut menewaskan dan menganiaya ratusan warga sipil tak bersalah di Aleppo, memicu kecaman dari publik internasional.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Yurievich Galuzin pada Rabu menekankan bahwa pembunuhan Karlov tidak akan membuat Rusia menghentikan operasi militernya di Suriah. (ama)