Intelijen AS: Putin Perintahkan Peretasan untuk Dukung Trump

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Sabtu, 07/01/2017 09:05 WIB
Intelijen AS: Putin Perintahkan Peretasan untuk Dukung Trump Putin memerintahkan kampanye ini untuk membalas dendam kepada AS setelah dipermalukan karena namanya tercantum dalam Panama Papers. Ia juga menuding Clinton memicu unjuk rasa untuk menentang rezimnya pada 2011-2012. (Reuters/Maxim Zmeyev)
Jakarta, CNN Indonesia -- Intelijen Amerika Serikat mengumumkan hasil temuan mereka yang menunjukkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, memerintahkan kampanye peretasan untuk memengaruhi hasil pemilihan umum demi memenangkan Donald Trump.

"Kami menilai Presiden Rusia, Vladimir Putin, memerintahkan kampanye pada 2016 untuk memengaruhi pemilu presiden AS," demikian kutipan laporan intelijen AS yang dirilis pada Jumat (6/1).

Laporan itu menyebutkan, tujuan Rusia dalam kampanye ini adalah untuk melemahkan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi di AS, membuat citra Hillary Clinton buruk sehingga mengurangi elektabilitasnya sebagai pesaing Trump.


"Kami juga menilai Putin dan Pemerintah Rusia ingin membantu peluang pemilu Trump sebisa mungkin dengan meremehkan Clinton di hadapan publik," bunyi laporan itu.

Intelijen juga melaporkan, Putin memerintahkan kampanye ini untuk membalas dendam kepada AS setelah dipermalukan karena namanya tercantum dalam Panama Papers. Putin juga menuding Clinton memicu aksi protes untuk menentang rezimnya pada 2011-2012.

Menurut laporan tersebut, intelijen militer Rusia (GRU) menggunakan perantara seperti WikiLeaks, DCLeaks.com dan "persona" Guccifer 2.0 untuk merilis surat elektronik yang didapatkan dari Komite Nasional Partai Demokrat dan sejumlah pejabat Demokrat lainnya.

Surat-surat elektronik itu kemudian dipakai untuk membuat laporan media yang mempermalukan Clinton hingga memicu mundurnya ketua Komite Nasional Partai Demokrat (DNC).

Pendiri WikiLeaks, Julian Assange, mengatakan bahwa ia tidak menerima surel curian DNC dari "negara itu." Namun, Assange tak menyinggung kemungkinan ia mendapatkan materi itu dari pihak ketiga.

Selain itu, laporan ini memastikan bahwa para aktor Rusia tidak menargetkan sistem dalam pemungutan suara pemilu pada 8 November lalu.

Melalui laporan ini, intelijen AS juga mengingatkan negara-negara sekutunya untuk waspada karena Rusia bisa saja mencoba memengaruhi proses pemilu mereka.

Kesimpulan setebal 25 halaman ini sudah dilaporkan ke Presiden Barack Obama pada Kamis (5/1), dan Trump sehari kemudian.

Menanggapi laporan ini, Trump mengatakan bahwa sebenarnya tak hanya Rusia, tapi banyak negara lain, seperti China, yang kerap mencoba membobol sistem AS. Namun, peretasan itu tak memengaruhi pemilu.

"Jelas tak ada pengaruhnya terhadap hasil pemilu, termasuk fakta bahwa tak ada intervensi terhadap mesin pemilu," katanya.

Isu mengenai peretasan Rusia ini mulai mencuat pada Desember lalu, setelah Badan Investigasi Federal AS (FBI) merilis laporan penyelidikan terbaru yang menunjukkan, Rusia melakukan peretasan guna mengintervensi pemilu.

Obama pun memutuskan untuk menjatuhkan sejumlah sanksi diplomatik dan ekonomi terhadap Rusia. Salah satu sanksi yang mendapat sorotan luas adalah pengusiran 35 diplomat Rusia dari AS. (has/has)