Proses pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Imigrasi dan Kewarganegaraan AS (CIS) ini seharusnya sudah memasuki tahap kedua pada pertengahan Februari. Namun kini, Presiden Donald Trump menutup sementara semua jalur imigran ke AS sehingga proses wawancara pun harus ditunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak saat itu, sudah ada ribuan pencari suaka yang mendaftarkan diri. Namun sekarang, nasib para pencari suaka itu kembali terkatung-katung. Pasalnya, Australia juga selama ini menerapkan aturan "zero entry" atau sama sekali tak menerima pengungsi.
Para pengungsi dan pencari suaka yang datang ke Australia pun terpaksa ditampung di kamp di Nauru dan Pulau Manus, Papua Nugini. Di sana, mereka kerap diperlakukan buruk.
"Kami sangat khawatir dengan kesepakatan dengan AS ini. Kami tak tahu mana yang harus kami percayai dan ketidakpastian ini kian buruk. Ini membunuh kami dari dalam setiap harinya," ujar Imran Mohammad, seorang pencari suaka dari etnis minoritas Rohingya yang kabur dari Myanmar. (has)