Empat Taktik China Hadapi Donald Trump
CNN | CNN Indonesia
Rabu, 01 Feb 2017 06:39 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Donald Trump tidak membuang waktu untuk melaksanakan programnya sebagai pemimpin tertinggi AS, tetapi tidak banyak negara yang mengawasi langkahnya dengan seksama seperti China.
Sejak terpilih pada November, Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang menantang China seperti: penguatan militer di Laut China Selatan, mengkritik kebijakan mata uang dan perdagangan, dan mempertanyakan kebijakan AS terhadap Taiwan.
Donald Trump juga menunjuk beberapa tokoh yang memiliki pandangan kontroversial terhadap China sebagai pejabat di pemerintahannya. Menteri Luar Negeri Rex Tillerson sebelumnya mengatakan Beijing harus dihalangi untuk masuk ke pulau reklamasi buatannya di Laut China Selatan.
Para pemimpin China kini ingin mengetahui seberapa serius mereka harus menangani pernyataan-pernyataan itu. Apakah pernyataan itu akan berubah menjadi kebijakan? Dan suara siapa yang akan didengar di dalam lingkaran dalam Trump?
“Mereka (pemimpin China) kemungkinan mau menyerah di satu sisi tetapi jika Trump meminta terlalu banyak, China siap untuk melawan,” ujar Zhang Baohui, guru besar politik dari Universitas Lingnan.
Lalu langkah-langkah apa yang bisa dilakukan China untuk mengatasi penghuni Gedung Putih baru yang tidak bisa diduga itu?
Memperhatikan dan Menunggu
Pernyataan agresif Trump bisa jadi hanya akan menjadi pernyataan semata. Presiden Amerika Serikat sudah biasa bersikap keras terhadap China dan menjadi lebih lunak ketika sudah berkuasa di Gedung Putih.
Presiden George W. Bush berkampanye dengan tekad akan memperlakukan China sebagai “pesaing strategis”, dan kenyataannya kebijakan Bush terhadap China hanyalah melanjutkan kebijakan pemerintah AS sebelumnya.
Ronald Reagan mengatakan akan memutus hubungan diplomatik dengan Beijing. Dua tahun setelah terpilih, dia malah berkunjung ke China.
Jon Huntsman, mantan duta besar AS untuk China, mengatakan pernyataan keras Trump soal China memiliki pola serupa.
“Ini hanya pengulangan dari yang telah kita lihat sebelumnya. Pada saatnya nanti Trump akan mengatakan ‘Saya harus berunding dan berbisnis dengan China,’” ujarnya kepada CNN.
Sebenarnya Trump sendiri sudah melunak pada satu pandangan kuncinya. Dalam wawancara dengan koran Wall Street Journal, dia tidak lagi mengatakan China sebagai menipulator mata uang.
Akan tetapi, para pengamat mengatakan strategi menunggu ini berisiko untuk China. Jika Presiden Xi Jinping bersikap terlalu pasif sementara Trump terus memprovokasi, reputasi Xi Jinping sebagai pemimpin yang kuat akan tercoreng.
Hal ini akan menyebabkan banyak protes, satu hal yang tidak diinginkan oleh Xi Jinping terjadi di tahun perubahan kepemimpinan yaitu kongres Partai Komunis yang diadakan lima tahun sekali.
“Xi jelas tidak ingin hubungan dengan AS menyebabkan masalah. Dia tidak ingin generasi muda China yang nasionalis berdemonstrasi menentang AS,” ujar Willy Lam, guru besar dari Universitas Hong Kong.
Sejak terpilih pada November, Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang menantang China seperti: penguatan militer di Laut China Selatan, mengkritik kebijakan mata uang dan perdagangan, dan mempertanyakan kebijakan AS terhadap Taiwan.
Donald Trump juga menunjuk beberapa tokoh yang memiliki pandangan kontroversial terhadap China sebagai pejabat di pemerintahannya. Menteri Luar Negeri Rex Tillerson sebelumnya mengatakan Beijing harus dihalangi untuk masuk ke pulau reklamasi buatannya di Laut China Selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Mereka (pemimpin China) kemungkinan mau menyerah di satu sisi tetapi jika Trump meminta terlalu banyak, China siap untuk melawan,” ujar Zhang Baohui, guru besar politik dari Universitas Lingnan.
Lalu langkah-langkah apa yang bisa dilakukan China untuk mengatasi penghuni Gedung Putih baru yang tidak bisa diduga itu?
Memperhatikan dan Menunggu
Pernyataan agresif Trump bisa jadi hanya akan menjadi pernyataan semata. Presiden Amerika Serikat sudah biasa bersikap keras terhadap China dan menjadi lebih lunak ketika sudah berkuasa di Gedung Putih.
Presiden George W. Bush berkampanye dengan tekad akan memperlakukan China sebagai “pesaing strategis”, dan kenyataannya kebijakan Bush terhadap China hanyalah melanjutkan kebijakan pemerintah AS sebelumnya.
Reputasi Xi Jinpin bisa tercoreng jika dia membiarkan Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras. (Reuters/Damir Sagolj) |
Jon Huntsman, mantan duta besar AS untuk China, mengatakan pernyataan keras Trump soal China memiliki pola serupa.
“Ini hanya pengulangan dari yang telah kita lihat sebelumnya. Pada saatnya nanti Trump akan mengatakan ‘Saya harus berunding dan berbisnis dengan China,’” ujarnya kepada CNN.
Sebenarnya Trump sendiri sudah melunak pada satu pandangan kuncinya. Dalam wawancara dengan koran Wall Street Journal, dia tidak lagi mengatakan China sebagai menipulator mata uang.
Akan tetapi, para pengamat mengatakan strategi menunggu ini berisiko untuk China. Jika Presiden Xi Jinping bersikap terlalu pasif sementara Trump terus memprovokasi, reputasi Xi Jinping sebagai pemimpin yang kuat akan tercoreng.
Hal ini akan menyebabkan banyak protes, satu hal yang tidak diinginkan oleh Xi Jinping terjadi di tahun perubahan kepemimpinan yaitu kongres Partai Komunis yang diadakan lima tahun sekali.
“Xi jelas tidak ingin hubungan dengan AS menyebabkan masalah. Dia tidak ingin generasi muda China yang nasionalis berdemonstrasi menentang AS,” ujar Willy Lam, guru besar dari Universitas Hong Kong.
Mendekati dan Berinvestasi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
Reputasi Xi Jinpin bisa tercoreng jika dia membiarkan Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras. (Reuters/Damir Sagolj)