Sepuluh Kasus Anti-Imigran Terjadi di Jerman Setiap Hari

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 27/02/2017 13:29 WIB
Jerman mencatat hampir 3.500 kasus kekerasan yang mengincar kaum pendatang terjadi pada 2016, menyimpulkan 10 kasus terjadi setiap harinya di negara itu. Jerman mencatat hampir 3.500 kasus kekerasan yang mengincar kaum pendatang terjadi pada 2016, menyimpulkan 10 kasus terjadi setiap harinya di negara itu. (Reuters/Ina Fassbender)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Dalam Negeri Jerman mencatat, lebih dari 3.500 serangan terhadap pengungsi dan tempat penampungan pencari suaka terjadi pada 2016 lalu. Dengan demikian, hampir 10 kekerasan mengincar kaum pendatang setiap harinya di negara tersebut.

Merujuk pada data statistik polisi, Kemendagri melaporkan, ada sekitar 2.545 kasus kekerasan menyerang pengungsi secara individu pada tahun lalu. Di tahun yang sama, ada sekitar 988 kasus serangan terhadap tempat penampungan pengungsi dan pencari suaka.

Sementara itu, 217 kasus penyerangan juga terjadi pada para relawan kemanusiaan dan organisasi yang turut menangani pengungsi dan pencari suaka.


Kementerian tersebut mengatakan, ribuan insiden itu setidaknya menyebabkan 560 orang terluka, 43 di antaranya anak-anak. 

Berdasarkan surat yang didapat AFP, pemerintah Jerman "mengutuk keras" serangan-serangan yang mengincar kaum imigran ini.

"Orang-orang yang melarikan diri dari negara asalnya dan mencari perlindungan di Jerman memiliki hak untuk mendapat penampungan yang aman," bunyi surat tersebut, dikutip pada Senin (27/2).

Jumlah serangan anti-imigran pada 2016 ini meningkat hampir dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya.

Pada 2015, pemerintah mencatat sekitar 1.000 kasus kekerasan pada penampungan pengungsi. Setahun sebelumnya, hanya 199 kasus penyerangan yang tercatat oleh otoritas Jerman.

Maraknya kekerasan ini meningkat seiring dengan keputusan pemerintahan Kanselir Angela Merkel menerima sekitar 890 ribu pencari suaka ke negaranya.

Keputusan Merkel itu menimbulkan sejumlah menyebabkan meningkatnya gerakan populis serta dukungan terhahap partai sayap kanan, Alternative for Germany (AfD).

Awal Februari ini, seorang warga Jerman simpatisan neo-Nazi dijatuhi hukuman delapan tahun penajara karena membakar sebuah gedung olah raga yang rencananya akan menampung sementara para pengungsi. Kebakaran ini setidaknya menyebabkan kerusakaan senilai US$3,7 juta.

Sementara itu, Ulla Jelpke, anggota parlemen partai sayap kiri, Die Linkie, menyalahkan peningkatan kekerasan terhadap kaum imigran ini pada ekstremis partai sayap kanan di negara itu.

Ia mendesak pemerintah mengambil tindakan yang lebih tegas lagi untuk menangani masalah ini.

"Apakah orang harus mati sebelum kekerasan yang dilakukan simpatisan sayap kanan ini dianggap sebagai masalah keamanan dalam negeri dan prioritas kebijakan nasional?" kata Jelpke.

Isu pengungsi di sejumlah negara Eropa, seperti Jerman dan Perancis, menjadi topik hangat dalam kampanye menjelang pemilu. Tak sedikit kandidat pemimpin negara di Eropa mengangkat isu pengungsi untuk meningkatkan elektabilitas mereka. (has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK