FBI Tangkap Pejabat Volkswagen terkait Skandal Dieselgate

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 09/01/2017 16:04 WIB
FBI Tangkap Pejabat Volkswagen terkait Skandal Dieselgate FBI menangkap seorang pejabat eksekutif Volkswagen atas tuduhan konspirasi dalam skandal. (REUTERS/Suzanne Plunkett)
Jakarta, CNN Indonesia -- Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menangkap seorang pejabat eksekutif Volkswagen atas tuduhan konspirasi dalam skandal "dieselgate" atau kecurangan tes emisi bahan bakar kendaraan yang mencuat tahun lalu.

Melansir AFP, Senin (9/1), berdasarkan laporan The New York Times, FBI menangkap Oliver Schmidt, pemimpin bagian kepatuhan regulasi VW di Florida, AS. Schmidt memimpin kantor tersebut sejak 2014 hingga 2015 lalu.

Laporan penangkapan ini bocor melalui dua sumber yang tidak disebutkan identitasnya.


Tuntutan hukum terhadap VW ini diajukan oleh negara bagian New York dan Massachusetts, yang menduga Schmidt menyembunyikan pelanggaran perusahaan berkaitan dengan uji tes emisi bahan bakar dari otoritas hukum di AS.

Menurut Times, Shcmidt diperkirakan akan diseret ke sel tahanan di Detroit pada awal pekan ini.

Sementara itu, Kepala Brand VW Herbert Diess tidak berani berkomentar banyak mengenai skandal yang menimpa perusahaannya itu. Sejumlah insinyur VW dikabarkan telah dipenjara akibat perannya dalam skandal tersebut.

"Saya tidak bisa berkomentar [tentang penangkapan ini], setidaknya saya masih [bebas] berada di sini," tuturnya.

Sejumlah pejabat eksekutif VW lain khawatir mereka akan turut diboyong ke sel tahanan jika berpergian ke AS. Sementara itu, Perusahaan telah lama berjanji akan bekerja sama dengan otoritas berwenang AS menyelesaikan skandal "dieselgate" ini.

Kasus dieselgate ini mencuat pada September 2015 lalu saat lembaga perlindungan AS (FPA) mendapati VW menggunakan perangkat lunak khusus pengecoh kadar emisi pada kendaraan diesel yang diproduksi perusahaan itu sejak 2008 lalu.

VW pun telah mengakui bahwa mereka telah menginstalasi perangkat lunak itu pada sektidaknya 11 juta ribu kendaraan diesel di seluruh dunia, dengan tujuan memanipulasi hasil uji emisi gas buang.

Perangkat lunak ini membuat uji emisi yang dihasilkan terlihat lebih bersih ketimbang yang sebenarnya dikeluarkan kendaraan tersebut. Hasil uji emisi tanpa perangkat lunak ini menunjukan kendaraan buatan perusahaan otomotif asal Jerman itu mengeluarkan emisi 40 kali lebih kotor ketimbang standar polusi yang ditetapkan secara hukum. (aal)