Panel Dewan Perwakilan AS Selidiki Kontak Tim Trump dan Rusia

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Kamis, 02/03/2017 08:40 WIB
Tim kampanye Trump dilaporkan berkomunikasi secara intens dengan berbagai pemangku kepentingan di Rusia, termasuk mata-mata, pada musim panas 2016. Ketua perwakilan Partai Demokrat, Adam Schiff, mengatkaan bahwa partainya dan Partai Republik sudah sepakat untuk menyelidiki dugaan kolusi antara tim kampanye Trump dan Rusia. (AFP Photo/Zach Gibson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komite Intelijen Dewan Perwakilan Amerika Serikat memutuskan akan membuka penyelidikan dugaan kolusi antara tim kampanye Donald Trump dan Rusia.

"Kami sudah mencapai kesepakatan tertulis, minoritas dan mayoritas di komite intelijen dewan perwakilan, bahwa kami akan menyelidiki tuduhan kolusi antara Rusia dan tim kampanye Trump," ujar ketua perwakilan dari Partai Demokrat, Adam Schiff, kepada MSNBC, Rabu (1/3).

Dalam pernyataan tertulis yang diterima Reuters, komite itu menjabarkan bahwa ketua perwakilan Partai Republik, Devin Nunes, memang sudah sepakat untuk melakukan penyelidikan itu.


"Apakah Rusia memiliki langkah aktif termasuk hubungan Rusia dengan individu-individu yang berhubungan dengan kampanye politik atau Pribadi AS lainnya?" demikian bunyi pernyataan itu.
Kasus ini mulai menjadi sorotan setelah The New York Times melaporkan bahwa tim kampanye Trump berkomunikasi secara intens dengan berbagai pemangku kepentingan di Rusia, termasuk mata-mata, pada musim panas 2016.

Setelah terkuak, pemerintah AS dilaporkan sempat meminta bantuan Badan Investigasi Federal (FBI) untuk mengatakan di hadapan publik bahwa pemberitaan mengenai tim kampanye Trump dan Rusia itu salah.

FBI menolak permintaan ini karena selama ini, AS memegang teguh aturan yang melarang kontak langsung dengan badan investigasi selama penyelidikan masih berlangsung.
Menurut seorang aparat hukum, komunikasi langsung ini bermula ketika Kepala Staf Gedung Putih, Reince Priebus, bertemu dengan Wakil Ketua FBI, Andrew McCabe, di sela sebuah rapat, sehari setelah The New York Times melansir laporan tersebut.

Namun seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, justru McCabe yang pertama kali menghubungi Priebus sebelum rapat berlangsung. Menurut pejabat itu, McCabe mengatakan bahwa pemberitaan di The New York Times itu jauh melebih-lebihkan dari apa yang diketahui oleh FBI.

Pejabat itu menuturkan, Priebus kemudian menghampiri McCabe dan Direktur FBI, James Comey, di sela rapat untuk meminta badan investigasi itu berbicara kepada para wartawan mengenai latar belakang sebenarnya dari kasus tersebut.

Comey sendiri menolak berkomentar karena kasus kontak Rusia dan tim Trump ini masih dalam tahap penyelidikan. Seorang pejabat FBI mengatakan, Comey tak akan berkomentar hingga penyelidikan menemui titik terang. (has/yns)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK