Guterres, Eks-Gerilyawan yang Jadi Presiden Timor Leste

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 28/06/2018 12:02 WIB
Guterres, Eks-Gerilyawan yang Jadi Presiden Timor Leste Presiden Timor Leste Francisco 'Lu-Olo' Guterres punya sejarah panjang dalam pertempuran memerdekakan negaranya dari Indonesia. (REUTERS/Lirio da Fonseca)
Jakarta, CNN Indonesia -- Karir politik Francisco Guterres, Presiden Timor Leste yang sedang melawat ke Indonesia dan bertemu Presiden Joko Widodo, tak dibangun secara instan. Politikus yang lebih dikenal dengan sapaan 'Lu Olo' itu baru memenangkan pemilihan presiden Timor Leste 2017, 

Sebelum terjun ke dunia politik, Pria kelahiran Ossu 62 tahun lalu ini aktif sebagai gerilyawan dan pejuang Timor Leste.

Guterres menghabiskan waktu setidaknya 24 tahun, sejak 1977-1999, memperjuangkan kemerdekaan negara di Asia Tenggara tersebut melawan pendudukan Indonesia.



Saat itu, dia bergabung dengan pejuang lainnya dalam organisasi Asosiasi Sosial Demokratik Timor (ASDT) yang kemudian berubah menjadi Fretilin. 

Selama masa pendudukan Indonesia, Guterres mengasingkan diri ke pegunungan dan bergabung dengan pasukan tentara yang beroperasi di daerah pegunungan Ossu, di bawah perintah Lino Olokassa.

Guterres menjadi salah satu yang selamat dari pengepungan di akhir 1970-an, di mana sejumlah rekan-rekannya di Fretilin diburu dan dibunuh, termasuk mentornya Vicente "Sahe" Reis.


Setelah referendum 1999, Guterres mulai merambah masuk ke dunia politik hingga kini menjadi pemimpin partai Fretilin. Pada 2002-2007, dia juga sempat menjabat sebagai presiden Parlemen Nasional Timor Leste.

Pada pemilu 2007, Guterres sempat mencalonkan diri sebagai presiden namun dikalahkan dalam putaran kedua oleh Jose Ramos Horta.

Untuk kedua kalinya, pada 2012, Guterres mencoba peruntungan kembali dengan mengikuti gelaran pemilu presiden. Namun, dia kembali kalah suara oleh Jose Maria Vasconcelos.


Dalam pemilihan presiden Timor Leste tahun lalu,  Guterres disokong dua partai terbesar yakni Fretilin dan CNRT, binaan tokoh kemerdekaan Xanana Gusmao.

Saat itu pesaing terdekat Guterres adalah Menteri Pendidikan Antonio de Conceicao langsung tersungkur.  Ini kali pertamanya sejak 2002 pemilu presiden Timor Leste dimenangkan dalam satu putaran.

Kemenangan tersebut juga akan menggiring Guterres mengambil alih peran seremonial kenegaraan di tengah situasi sulit yang sedang dihadapi Timor Leste, khususnya mengenai kekeringan sumber daya minyak dan sengketa energi melawan Australia. Yang pada Februari tahun ini, berhasil dituntaskan.

(aal)