"Kontroversi ini berakhir," kata Presiden Nicolas Maduro beberapa saat setelah tengah malam, di hadapan komite yang khusus dibentuk untuk membahas keamanan negara, Senin (4/3).
Komite tersebut memerintahkan MA untuk menimbang kembali keputusan yang secara efektif menepikan dewan legislasi bermayoritas oposisi itu. Dengan memberi kewenangan kepada MA yang pro-pemerintah, Partai Sosialis yang berkuasa pun dituding ingin menjadi diktator.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anda tidak bisa berpura-pura seolah baru saja menormalisasi negara setelah melakukan kudeta," kata Julio Borges, Ketua Dewan Nasional, badan legislasi Venezuela.
Dia memimpin pertemuan Dewan Nasional di ruang terbuka di Caracas Square, akhir pekan kemarin.
Setelah menyerang sejumlah langkah kongres sejak oposisi memperoleh kekuasaan pada 2015, MA mengambil langkah lebih jauh lewat putusannya, Rabu pekan lalu. Pengadilan tertinggi Venezuela ini menyatakan mengambil alih kewenangan legislatif karena para legislator "menghina" hukum.
Gas Air Mata dan Semprotan Merica
Puluhan penentang pemerintah telah ditahan selama masa kepemimpinan empat tahun Maduro dan Dewan Nasional pun sebenarnya sudah kehilangan kekuasaan dalam praktiknya. Namun, langkah perebutan kewenangan ini dinilai sebagai salah satu langkah anti-demokrasi yang paling blak-blakan.
Langkah ini membangkitkan koalisi oposisi yang sudah terpecah dan lelah. Bahkan, Maduro pun mendapatkan aliran kecaman dari dunia internasional, kekhawatiran PBB dan Uni Eropa, serta Amerika Serikat ditambah negara-negara tetangga lainnya.
Tindakan plin-plan MA ini bisa jadi meredakan protes yang berlangsung, tapi oposisi Maduro di dalam dan luar negeri akan mencari cara untuk mempertahankan tekanannya. Mereka marah otoritas menggagalkan upaya menggelar referendum penarikan Maduro tahun lalu dan menunda pemilu lokal yang dijadwalkan digelar pada 2016.
Ratusan pendukung oposisi turun ke jalan di Caracas, akhir pekan lalu. Polisi menggunakan gas air mata sementara warga menabuh panci dan katel untuk memberikan dukungan terhadap para pedemo.
Salah satu legislator oposisi mengatakan dirinya diserang tiga kali oleh polisi menggunakan semprotan merica. "Kekerasan yang mereka lakukan tidak akan menghentikan kami," kata Miguel Pizzaro dari Partai Keadilan Utama, dikutip Reuters.