Rusia Disebut Palsukan Survei Pemilu Perancis

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 03/04/2017 17:36 WIB
Rusia Disebut Palsukan Survei Pemilu Perancis Kantor berita Rusia, Sputnik, diduga memalsukan laporan survei pemilu Perancis dengan menempatkan capres Francois Fillon di posisi teratas jajak pendapat. (Foto: REUTERS/Patrick Kovarik)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi survei pemilu mengeluarkan peringatan atas laporan kantor berita Rusia yang diduga mengabarkan berita palsu tentang jajak pendapat seputar elektabilitas kandidat presiden Perancis.

Peringatan dikeluarkan setelah kantor berita Sputnik mengabarkan kandidat presiden Francois Fillon mendapatkan dukungan terbanyak.

Media corong pemerintah Rusia melaporkan hasil jajak pendapat itu dalam artikel berjudul Pemilu Presiden 2017: Kembalinya Fillon Memimpin Jajak Pendapat yang dipublikasikan 29 Maret lalu.
Berita itu dikutip Sputnik dari lembaga penelitian daring berbasis di Moskow, Brand Analytics, yang mendasari penelitian mereka pada analisis media sosial di Perancis.


Padahal, hampir seluruh media arus utama Perancis dan jajak pendapat yang ada menunjukkan Fillon berada di posisi ketiga, di bawah dua kandidat terkuat yakni Emmanuel Macron dan Marine Le Pen.

Bahkan, dengan posisinya saat ini, politikus konservatif itu disebut-sebut tak akan sanggup mencapai pemilu putaran kedua pada Mei mendatang.

Melalui pernyataan pers, komisi lembaga survei pemilu Perancis menyatakan penelitian tersebut tak dapat disimpulkan sebagai suara atau opini publik Perancis dan Sputnik tidak bisa menyebutnya sebagai jajak pendapat, jika merujuk pada hukum yang berlaku di Perancis.
"Sangat penting untuk memperlakukan survei jenis ini dengan secara berhati-hati sehingga publik menyadari sifatnya yang tidak representatif," bunyi pernyataan lembaga tersebut.

Selain itu, penelitian Brand Analitics pun belum bisa dipastikan kualitasnya sejauh ini. Rekam jejak survei politik lembaga tersebut di luar Rusia dan wilayah bekas jajahan Soviet pun belum diketahui.

Ketika dikonfirmasi, baik Sputnik maupun Brand Analytics belum memberikan tanggapan mengenai jajak pendapat ini.

Peringatan Perancis ini muncul seiring dengan tuduhan sejumlah pihak bahwa Rusia berniat memengaruhi pemilu Perancis, setelah sebelumnya disebut-sebut mengintervensi pemilu Amerika Serikat November lalu.
Kepala komite intelijen Senat AS, Richard Burr, kini tengah menyelidiki keterlibatan Rusia dalam peretasan saat kampanye pemilu AS 2016. Dia bahkan menuturkan, Kremlin memiliki rencana untuk mencoba memengaruhi hasil pemilu negara di Eropa Barat itu.

Diberitakan The Guardian, Rusia memiliki kepentingan yang kuat dalam pemilu Perancis dan pemerintahan Presiden Vladimir Putin sangat berharap Macron kalah dalam pemilu mendatang.

Sebab, Macron merupakan salah satu politikus yang mendukung pemberian sanksi tambahan bagi Moksow mengenai krisis di Ukraina.

Sedangkan Fillon, yang sempat menjadi capres terfavorit, mengecam sanksi yang dinilainya hanya membawa kembali "suasana Perang Dingin."
Elektabilitas Fillon terus menurun lantaran kasus penyelewengan dana publik dan skandal gaji palsu yang menyeret dia beserta istrinya, Penelope Fillon.

Meski sejumlah pihak telah menekan Fillon untuk mundur, pria berusia 62 tahun ini tetap berkeras melanjutkan pencalonannya dalam pemilu.