Rusia Blokir Kecaman DK PBB soal Rudal Korut

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 20/04/2017 17:32 WIB
Rusia Blokir Kecaman DK PBB soal Rudal Korut Rusia menolak menyetujui kecaman DK PBB terhadap Korut, menekankan cara dialog mesti diutamakan untuk menghentikan ambisi nuklir dari negara paling terisolasi itu. (Foto: Reuters/Mike Segar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah diplomat mengatakan, Rusia memblokir kecaman Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bagi Korea Utara atas uji coba rudal terbaru mereka pada akhir pekan lalu, yang dinilai kian mengancam stabilitas kawasan.

Beberapa diplomat di DK PBB menuturkan, pemblokiran ini dilakukan lantaran Moskow tak setuju dengan bahasa keras yang tercantum dalam kecaman tersebut, menekankan perlunya mengutamakan cara dialog untuk mencapai solusi damai dengan negara paling terisolasi itu.

Seorang diplomat yang tak ingin disebutkan namanya mengaku kaget dengan langkah Rusia ini. Sebab, pemblokiran ini terjadi ketika China, sekutu terdekat Korut, bahkan setuju dengan sikap keras Amerika Serikat terhadap Pyongyang.



Rancangan kecaman ini berisikan tuntutan bagi Korut untuk "tidak lagi melakukan uji coba nuklir di masa depan" dan menghentikan peluncuran rudal yang sejak awal tahun 2017 ini kerap dilakukan.

Dalam proposal itu, anggota DK PBB menyatakan, "keprihatinan mereka atas perilaku yang tidak stabil dari Korut."

Dokumen itu juga menegaskan, anggota dewan akan mengambil tindakan yang lebih signifikan lagi untuk menghentikan aktivitas rezim Kim Jong-un ini.

"Penting agar Korut tahu bahwa kami tidak berusaha untuk berkelahi dengan mereka, jadi jangan coba-coba memicu pertikaian," tutur Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley pada Kamis (20/4).

"Kami dengan jelas mengatakan bola liar ada di tangan mereka, seharusnya mereka tidak mencoba memainkan itu dalam tahap ini," kata Haley seperti dikutip AFP.


Selama ini, Washington terus mendesak Pyongyang berhenti mengembangkan rudal dan nuklirnya. Presiden Donald Trump bahkan telah mengirimkan kapal induk USS Carl Vinson ke perairan Semenanjung Korea sebagai respons terhadap uji coba rudal terbaru Korut.

Wakil Presiden Mike Pence juga menegaskan, Gedung Putih tak segan melawan serangan Pyongyang dengan respons efektif yang luar biasa. Seluruh cara, termasuk langkah militer, disebut telah siap diluncurkan AS untuk membendung ancaman Korut.

"Korut adalah ancaman paling berbahaya dan mendesak bagi perdamaian serta keamanan di kawasan Asia Pasifik. Kami akan mengalahkan serangan apapun yang datang dari Korut. Serangan senjata konvensional maupun nuklir, akan kami respons dengan strategi efektif AS yang luar biasa," tutur Pence saat bertandang ke Jepang kemarin.

Perbedaan sikap dari Rusia ini disebut kian memperumit perundingan tingkat menteri DK PBB mengenai Korut yang akan berlangsung minggu depan. Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson direncanakan akan memimpin sidang tersebut.