Menlu AS Sebut Kesepakatan Nuklir Tak Hentikan Ancaman Iran

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Jumat, 21/04/2017 04:34 WIB
Menlu AS Sebut Kesepakatan Nuklir Tak Hentikan Ancaman Iran Rex Tillerson menilai, kesepakatan nuklir Iran hanya menunda ambisi Teheran menjadi negara nuklir, sementara ancaman lain yang ditimbulkan belum terbendung. (Foto: Reuters/Joshua Roberts)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson, mengatakan bahwa kesepakatan penghentian program nuklir Iran yang disetujui pada 2015 silam, tak mengurangi ancaman ambisi pengembangan senjata negara itu.

"Kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan enam negara dunia gagal mencapai tujuan denuklirasi Iran. Kesepakatan ini hanya menunda tujuan mereka untuk menjadi negara nuklir," tutur Tillerson di kantornya, Kamis (20/4).

Eks bos ExxonMobil itu bahkan menuding Iran masih melakukan provokasi untuk mengacaukan stabilitas dan keamanan di Timur Tengah. Karena itu, lanjut Tillerson, Washington perlu mengkaji ulang kebijakan luar negerinya terhadap Teheran.


"Kami harus meninjau kebijakan Iran secara komprehensif, menganalisis seluruh ancaman yang ditimbulkan oleh negara itu yang jelas-jelas banyak," katanya.

Dalam surat kepada ketua dewan perwakilan AS, Paul Ryan, Tillerson mengakui bahwa Iran sebenarnya sudah memenuhi komitmennya dalam kesepakatan nuklir tersebut.

Namun, Tillerson mengatakan, peninjauan ulang ini bukan hanya soal kepatuhan negara itu terkait kesepakatan nuklir, tapi juga sikap Teheran di kawasan, termasuk terkait dukungan terhadap terorisme.

Dia menganggap, sikap Iran selama ini mengacaukan kepentingan Amerika di kawasan, khususnya di Irak, Suriah, Yaman, dan Libanon.

"Itulah mengapa kami harus melihat Iran secara menyeluruh dan sangat komprehensif, meninjau seluruh ancaman serius lainnya yang ditimbulkan Iran di kawasan dan global selain program nuklirnya," katanya sebagaimana diberitakan Reuters.

Senada dengan Tillerson, Menteri Pertahanan AS, James Mattis, juga menganggap pengaruh Iran di kawasan harus segera diatasi agar bisa mengakhiri konflik sipil di Yaman.

Meski belum ada pertanda Washington akan membatalkan kesepakatan itu, Tillerson memperingatkan Teheran untuk menjaga sikap.

Jika tidak, AS akan menganggap negara itu sebagai ancaman, sama seperti Korea Utara yang juga sedang menghadapi tekanan terkait ambisi nuklirnya.