Telepon Trump, PM Jepang Bicarakan Ancaman Korut

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 25/04/2017 02:20 WIB
Telepon Trump, PM Jepang Bicarakan Ancaman Korut Shinzo Abe menyatakan akan mendukung pemerintah AS dalam upaya menghadapi ancaman Korea Utara. (REUTERS/Toru Hanai)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sepakat selalu menjaga hubungan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Korea Utara dan menuntut Pyongyang menahan diri.

Setelah berbicara melalui telepon dengan Trump, Abe mengatakan kepada wartawan bahwa dia menghargai sikap pemimpin AS itu untuk menunjukkan bahwa ada banyak pilihan untuk menghadapi Korea Utara.

Ketegangan meningkat tajam seiring dengan kemajuan program nuklir dan peluru kendali Korea Utara. Pemerintah AS kemudian memerintahkan kapal induk USS Carl Vinson berlayar ke semenanjung Korea.
Hal ini lantas direspons Pyongyang dengan menyatakan Korea Utara siap menenggelamkan kapal induk tersebut.


Dua kapal perusak Jepang kemudian bergabung dengan kapal induk Amerika Serikat sebagai bentuk kesetiakawanan.

Sementara itu Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence sebelumnya memastikan komitmen Washington untuk terus mendukung Jepang dari ancaman nuklir dan rudal Korea Utara.

Pence tiba di Tokyo pada Selasa setelah mengunjungi Korea Selatan untuk menyampaikan dukungan serupa.

Kepada Korea Utara, Pence menegaskan era kebijakan "kesabaran strategis" Amerika Serikat terhadap Pyongyang sudah berakhir.
Korea Utara memang rutin mengancam akan menghancurkan Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Dalam beberapa pekan ke belakang, negara tersebut juga sering melakukan uji coba senjata rudal kendali--yang terbaru pada Ahad.

"Era kesabaran strategis sudah usai. Presiden Donald Trump kini tengah mengupayakan kerja sama dengan Jepang, Korea Selatan, dan semua negara sekutu di kawasan, serta China untuk mencari resolusi damai dan denuklirisasi semenanjung Korea," kata Pence di Tokyo sebelum makan siang bersama Perdana Menteri Shinzo Abe.

"Kami mengakui bahwa rakyat Jepang tinggal di tengah provokasi yang terus meluas di sekitar Laut Jepang. Kami 100 persen mendukung anda," kata dia.

Sebelumnya, pada Senin, wakil utusan Korea Utara untuk PBB, Kim In Ryong, menuding Amerika Serikat telah menciptakan "situasi yang membuat perang nuklir bisa terjadi kapan saja."

Dia juga menyatakan bahwa pihaknya berhak menggelar uji coba nuklir "pada waktu dan di tempat yang diperlukan." Sementara itu Wakil Menteri Korea Utara, Han Song-Ryol, kepada BBC, mengungkapkan bahwa uji coba rudal akan rutin dilakukan "setiap pekan, bulan, dan tahun".
Di sisi lain, presiden sementara Korea Selatan, Hwang Kyo-ahn, pada Selasa mengatakan bahwa pihaknya akan memperkuat persekutuan dengan Amerika Serikat dan bekerja sama dengan China untuk mengurung tetangganya di utara.

Pada Senin, Pence menjelaskan bahwa Trump telah menunjukkan komitmen di hadapan dunia dengan mengirim serangan rudal ke wilayah Suriah dan menjatuhkan bom terbesar di dunia di Afghanistan untuk menghancurkan kelompok bersenjata IS.

Pemerintahan Trump sendiri sudah mengingatkan mereka siap mempertimbangkan aksi militer untuk mengatasi persoalan Korea Utara.

Namun demikian, Amerika Serikat mengaku masih memusatkan perhatian pada pemberlakuan sanksi ekonomi lebih tegas untuk menghindari peluasan konflik ke kawasan tersebut.