Meski tak pernah terlibat langsung dalam pengembangan nuklir di negara asalnya, Thae yakin program nuklir Pyongyang "telah mencapai peningkatan yang signifikan."
"Jika melihat sedikit saja ancaman awal dari Amerika, Korea Utara akan menggunakan senjata nuklir dengan rudal antarbenua (ICBM)," tutur Thae, Rabu (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Jong-un terobsesi memiliki nuklir setelah melihat sejumlah diktaktor lain seperti Saddam Hussein di Irak dan Moammar Gadhafi di Libya digulingkan pasukan pendukung Barat lantaran menelantarkan program senjata mereka.
"Karena alasan itu lah Jong-un sangat percaya bahwa senjata nuklir itu satu-satunya hal yang dapat menjamin rezimnya tetap utuh," kata Thae dalam wawancara yang dikutip NBC News.
"Jong-un itu seseorang yang tidak pernah ragu bahkan untuk membunuh pamannya sendiri dan saudara tirinya sendiri, Kim Jong-nam beberapa waktu lalu. Dia tipe orang yang mau melakukan apa saja untuk menyingkirkan orang yang menghalangi jalannya," tutur mantan diplomat itu.
Krisis nuklir yang diakibatkan ambisi Pyongyang untuk mengembangkan rudal jarak jauhnya semakin mengkhawatirkan dunia.
Pyongyang diperkirakan memiliki sekitar delapan senjata nuklir, meski hingga kini negara di Asia Timur itu belum menunjukkan kemampuan senjatanya tersebut menggunakan ICBM.
Walaupun begitu, sejauh ini, Korut telah melakukan tes nuklir sebanyak lima kali. Dua di antaranya dilakukan 2016 lalu.
Kapabilitas nuklir dan rudal Korut belakangan juga disebut kian meningkat dan membahayakan keamanan.
Kepala Badan Energi Atom Internasional PBB (IAEA) Yukiya Amano mengatakan fasilitas produksi uranium yang dimiliki Korut telah meningkat dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.
Hal ini, lanjutnya, membawa kapabilitas fasilitas nuklir Korut memasuki fase baru yang lebih membahayakan.