Namun, Miller dan Jeffrey sama-sama menyoroti fakta bahwa Trump telah mengumpulkan penasihat berpengalaman, terutama Menteri Pertahanan James Mattis dan penasihat keamanan nasional HR McMaster.
"Mereka sangat percaya pada sistem, dan kita harus percaya pada sistem karena alternatifnya hanya kekacauan," kata Jeffrey.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump akhirnya mengandalkan kekuatan militer untuk menyelesaikan sejumlah perselisihan global, mulai dari mengirimkan kapal induk USS Carl Vinson ke Semenanjung Korea, menjatuhkan bom terbesar yang ada di gudang senjatanya ke Afghanistan, hingga meluncurkan peluru kendali Tomahawk ke Suriah.
Namun, di saat yang sama, dia juga mulai bergerak untuk memangkas anggaran Kementerian Luar Negeri secara drastis.
"Semua orang terfokus pada serangan Tomahawk, perselisihan dengan Korea Utara," kata Christine Wormuth, mantan wakil menteri keamanan di pemerintahan Obama. "Tapi itu hanya respons taktis. Pada akhirnya pemerintahan Trump mesti punya strategi nyata dan di sana harus ada komponen diplomatik."
Salah satu tantangan paling beratnya saat ini bisa jadi soal Korea Utara, yang siap melaksanakan uji coba nuklir keenam dan mengancam akan menghantam Amerika Serikat dengan senjata mematikannya. Trump ingin China membantunya mengatasi masalah tersebut.
"Bagaimana mungkin saya menyebut China sebagai manipulator mata uang ketika mereka bekerja sama dengan kita mengatasi masalah Korea Utara?" tulisnya lewat Twitter, merujuk pada pernyataan terdahulu sekaligus menunjukkan perubahan pandangan terhadap Beijing.
Para pemimpin negara asing juga bermain peran dalam hal ini, kata Jeffrey, terutama Presiden Israel Benjamin Netanyahu dan para pemimpin negara-negara Teluk seperti Arab Saudi.
Lihat juga:Amerika Bersedia Negosiasi dengan Korut |
Mereka "cemas" menghadapi presiden "yang datang dan menghina segala hal begitu saja."
"Lalu mereka berdatangan ke Washington dan memohon, 'jadilah polisi dunia'."
"Dia pun sepakat."